IPA Convex Ke-45 Usai, Munculkan 4 Rekomendasi

IPA Convex Ke-45 Usai, Munculkan 4 Rekomendasi Kredit Foto: Antara/Nova Wahyudi

Indonesia Petroleum Assosiation, Gary Selbie mengapresiasi partisipasi aktif seluruh pemangku kebijakan dalam serangkaian Convex Ke-45 melalui sejumlah diskusi yang menunjukan perhatian dan dukungan semua pihak terhadap industri hulu migas, guna meningkatkan iklim investasi migas di Indonesia.

“Seluruh diskusi berjalan dengan baik dan hasil yang diperoleh selama 3 hari pelaksanaan IPA Convex akan ditindaklanjuti oleh IPA bersama para pemangku kepentingan yang ada di industri hulu migas ke depannya,” ujarnya menjelang penutupan Pameran dan Konvensi IPA Convex ke-45 yang diadakan tanggal 1 hingga 3 September 2021, Jumat (3/9/2021).

Baca Juga: IPA Convex 2021 Dekatkan Publik dengan Aktor Industri Hulu Migas

Selama tiga hari penyelenggaraan, kata Gary, IPA Convex 2021 telah mengadakan berbagai diskusi serial yang membahas sejumlah hal yang menjadi perhatian bersama para pemangku di industri migas. Sesi-sesi diskusi yang diadakan antara lain Plenary Sessions, Technology Sessions, Business Matching, dan lainnya.

Salah satunya dengan mengundang Presiden Jokowi yang kehadirannya diwakili oleh Menteri ESDM Arifin Tasrif secara sekaligus membuka serangkaian IPA Convex ke-45. Hingga mengundang Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Alue Dohong yang hadir pada sesi Ministerial Round-Table yang membahas topik The New Landscape of Oil and Gas Investment in Indonesia.

“Kehadiran key-stakeholders dari luar sektor energi ini menunjukkan adanya kolaborasi yang tepat demi mewujudkan sektor energi nasional yang kuat,” ujarnya.

Dalam serangkaian Pameran dan Konvensi IPA Convax ke-45 yang terdiri dari Plenary Sesion dan Morning Talk memunculkan sejumlah kesimpulan dan rekomendasi. Plenary Session 1 - The Road to 1 MMBOPD/12 BSCFD – Tracking the Progress memberikan kesimpulan bahwa migas dinilai masih menjadi andalan dalam memenuhi kebutuhan energi nasional dan sumber penggerak perekonomian, sesuai dengan fokus Pemerintah Indonesia dalam Gran Strategi Energi Nasional.

Hal tersebut penting bagi semua pemangku kepentingan untuk mendukung peningkatan produksi migas melalui kebijakan fiskal yang tepat demi menjaga ketahanan energi nasional. 

Plenary Session 2 - Towards 12 BSCFD: Unlocking the Gas Market menghasilkan kesimpulan permasalahan utama dalam pemanfaatan gas bumi disebabkan masih minimnya penyerapan dan infrastruktur gas yang belum maksimal.

Agar produksi gas dapat memenuhi kebutuhan energi yang ada, maka investor dan produsen gas membutuhkan dukungan,  di antaranya adalah perlunya kepastian permintaan terutama dari sektor pembangkit listrik, sektor industri (pupuk, petrokimia, lainnya), dan sektor transportasi. Selain itu, p penetapan harga gas dapat memperhitungkan keekonomian dari lapangan gas, serta perlunya ketersediaan infrastruktur gas.

Plenary Session 3 - Indonesia’s Energy Transition Plan menghasilkan kesimpulan pemerintah bersama DPR saat ini sedang menyusun RUU Energi Baru Terbarukan untuk memperkuat implemetasi target bauran energi sesuai dengan RUEN. Energi fosil disepakati tetap memegang peranan yang penting dalam penyediaan energi nasional. Dalam konteks transisi energi, Gas Bumi merupakan solusi yang dapat ditawarkan industri hulu migas karena dianggap lebih bersih (cleaner energy).

Sedangkan Morning Talk – Permitting Post-Omnibus Law menghasilkan kesimpulan agar pemerintah Indonesia yang telah mengesahkan Undang-Undang Cipta Kerja atau yang dikenal Omnibus Law, pada Oktober 2020. UU ini diharapkan dapat meningkatkan kemudahan berinvestasi dan berbisnis di Indonesia semua sektor industri. Sehingga, Omnibus Law dapat menjadi titik awal kemudahan berusaha bagi investor migas dan meningkatkan iklim investasi Indonesia.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini