Studi Mengungkapkan Varian Delta Masih Mendominasi Kasus Covid-19

Studi Mengungkapkan Varian Delta Masih Mendominasi Kasus Covid-19 Kredit Foto: Republika

Sebuah studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Nature menggambarkan bagaimana varian delta dari SARS-CoV-2 begitu cepat mendominasi di seluruh dunia. Penelitian itu membuktikan delta memiliki ketahanan terhadap antibodi kekebalan, serta kemampuan lebih efisien menginfeksi sel dan bereplikasi dibandingkan dengan varian virus sebelumnya.

Pertama kali tercatat di India pada Desember 2020, SARS-CoV-2 varian delta telah menyebar ke seluruh dunia dengan kecepatan yang luar biasa. Infeksinya mengungguli semua varian lain yang beredar saat ini. Dilansir New Atlas pada Kamis (9/9), delta saat ini menjadi bentuk dominan dari SARS-CoV-2 dan ditemukan di sebagian besar negara di seluruh dunia.

Studi baru tersebut merupakan hasil dari efek kolaboratif internasional besar-besaran yang melibatkan puluhan ilmuwan. Penelitian menyelidiki seberapa efektif varian delta menghindari antibodi kekebalan yang sudah ada sebelumnya, baik yang dihasilkan oleh infeksi Covid-19 sebelumnya atau vaksinasi.

Melalui serangkaian percobaan in vitro, para peneliti menemukan varian delta enam kali lebih sensitif terhadap antibodi kekebalan dari individu yang telah pulih dari infeksi Covid-19 sebelumnya, dan delapan kali lebih sedikit sensitif terhadap antibodi yang diinduksi vaksin. Sensitivitas ini dibandingkan dengan respons antibodi yang dihasilkan terhadap galur asli SARS-CoV-2.

Lengan kedua dari penelitian itu berfokus pada bagaimana varian delta lebih efisien menginfeksi dan bereplikasi di dalam sel inang. Di sini, para peneliti menghasilkan model seluler saluran udara yang tumbuh dari sel manusia.

Mengamati virus yang menginfeksi sel-sel ini secara rinci mengungkapkan peningkatan kemampuan varian delta untuk masuk ke sel dibandingkan dengan varian SARS-CoV-2 lainnya. Para peneliti menyarankan kemampuan ini dimediasi oleh volume yang lebih besar dari apa yang dikenal sebagai paku terbelah.

Versi sintetis delta, yang dikenal sebagai virus pseudotyped, diciptakan untuk meniru beberapa mutasi kunci. Ini secara efektif mengkonfirmasi peningkatan jumlah paku yang terbelah pada permukaan virus, yang membantu delta memasuki sel inang dengan lebih efisien.

Begitu berada di dalam sel-sel itu, varian delta juga ditemukan mereplikasi lebih cepat daripada varian sebelumnya. Faktor-faktor ini, para peneliti berhipotesis, adalah alasan delta begitu cepat menjadi dominan atas semua varian lain yang beredar saat ini.

Penulis senior studi baru dari University of Cambridge, Ravi Gupta, menjelaskan, tim peneliti menggabungkan eksperimen berbasis laboratorium dan epidemiologi infeksi terobosan vaksin.

“Kami telah menemukan bahwa varian delta lebih baik dalam mereplikasi dan menyebar daripada varian lain yang umum diamati,” kata Gupta.

Ada juga bukti bahwa antibodi penetral yang dihasilkan sebagai akibat dari infeksi atau vaksinasi sebelumnya kurang efektif untuk menghentikan varian ini. Faktor-faktor ini kemungkinan telah berkontribusi pada gelombang epidemi yang menghancurkan di India selama kuartal pertama pada 2021, di mana sebanyak setengah dari kasus adalah individu yang sebelumnya telah terinfeksi dengan varian sebelumnya.

Gupta mengatakan, ilmuwan mungkin perlu mulai mempertimbangkan vaksin khusus delta, karena penelitian ini juga menganalisis sekitar 100 petugas kesehatan yang divaksinasi yang kemudian terinfeksi varian delta. Vaksin saat ini masih ditemukan sangat efektif untuk mencegah penyakit parah, rawat inap, dan kematian. Namun, penelitian menemukan individu yang divaksinasi yang terinfeksi delta menularkan virus ke orang lain pada tingkat yang lebih besar daripada varian sebelumnya.

Peneliti dari CSIR Institute of Genomics and Integrative Biology India dan penulis studi baru itu, Anurag Agrawal, mengatakan, terobosan penularan virus semacam ini adalah masalah yang signifikan, karena memungkinkan virus menyebar secara diam-diam melalui komunitas yang divaksinasi sampai virus itu menyerang populasi yang rentan atau yang tidak divaksinasi.

“Infeksi petugas kesehatan yang divaksinasi dengan varian delta adalah masalah yang signifikan,” ujar Agrawal.

Meskipun mereka sendiri mungkin hanya mengalami Covid-19 ringan, Agrawal mengatakan petugas kesehatan itu berisiko menginfeksi individu yang memiliki respons imun suboptimal terhadap vaksinasi karena kondisi kesehatan yang mendasarinya, dan pasien ini kemudian dapat berisiko terkena penyakit parah.

“Kami sangat perlu mempertimbangkan cara untuk meningkatkan respons vaksin terhadap varian di antara petugas kesehatan. Ini juga menunjukkan langkah-langkah pengendalian infeksi perlu dilanjutkan di era pascavaksin,” kata Agrawal.

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini