Hatta Rajasa: Proyek JTTS Dapat Minimalisasi Kesenjangan Jarak Geografis dengan Jarak Ekonomi

Hatta Rajasa: Proyek JTTS Dapat Minimalisasi Kesenjangan Jarak Geografis dengan Jarak Ekonomi Kredit Foto: Istimewa

Mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa, menyebut tingginya biaya logistik disebabkan lemahnya penyediaan infrastruktur sehingga berdampak pada rendahnya daya saing, terutama yang mendorong konektivitas antarwilayah.

"Ini tantangan yang kita hadapi betapa besar, jarak geogravis vs jarak ekonomi, bagaimana jarak tersebut menjauh karena masalah konektivitas. Artinya, biaya ekonomi yang menjadi beban kita jauh lebih tinggi dibandingkan jarak geografisnya," ujarnya dalam webinar Trans Sumatra Toll Road: Accelerating Indonesia’s Economic Growth Through Infrastructure Development, Kamis (9/9/2021).

Baca Juga: Kementerian BUMN Sebut Pembangunan Tol Trans Sumatera Dapat Naikkan Kontribusi 20 Persen PDB

Hatta mengakui untuk melakukan hal tersebut tidaklah mudah sebab dibutuhkan kerja keras, strategi, dan kebijakan uang unggul di tengah ketidakpastian ekonomi global yang terjadi karena pandemi Covid-19. Tantangan yang nyata terjadi adalah selain pandemi Covid-19, juga terjadinya kesenjangan spasial yang disebabkan pembangunan infrastruktur yang tidak terkoneksi dengan baik.

Untuk itu, diperlukan secara serius membangun infrastruktur yang mendorong konektivitas agar dapat menurunkan biaya logistik. Dengan demikian, diharapkan dapat meningkatkan daya saing produk dan mempercepat gerak ekonomi. Salah satu yang utama adalah membangun jalan tol.

"Ini sejalan dengan pada tahun 2045 jumlah penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 319 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 73  persen di antaranya tinggal di perkotaan dan 90 persen penduduk di Pulau Jawa tinggal di kota," katanya.

Selain itu, berdasarkan riset The Long View, How Will the Global Economic Order Change by 2050 yang dikeluarkan Price Waterhouse Cooper (PwC), Indonesia diprediksi akan berada di peringkat 5 besar ekonomi dunia pada 2030 dengan estimasi nilai PDB berdasarkan Purchasing Power Parity sebesar US$5,424 triliun.

"Tahun 2050 mengalami peningkatan menjadi US$10,502 triliun setelah Chiina, AS, dan India. Pada saat itu kita sudah menjadi negara maju, pada tahun 2030 pendapatan per kapita kita sudah mencapai di atas US$17.000," pungkasnya.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini