Meski Pandemi, Bisnis Makanan Tetap Manis dan Legit

Meski Pandemi, Bisnis Makanan Tetap Manis dan Legit Kredit Foto: Filsa Budi

Produk kuliner atau makanan merupakan kebutuhan pokok masyarakat sehari-sehari sehingga akan selalu ada permintaan akan makanan. Hal ini menghasilkan peluang bisnis kuliner yang sangat potensial.

Selain itu, UMKM di bidang kuliner dapat dimulai dengan modal uang yang kecil, bahkan di bawah Rp1 juta. Berdasarkan data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, subsektor kuliner di Indonesia menyumbang Rp455,44 triliun atau sekitar 41% dari total Produk Domestik Bruto (PDB) kreatif yang totalnya sebesar Rp1.134,9 triliun pada tahun 2020.

Ini berarti, subsektor kuliner merupakan penyumbang terbesar PDB ekonomi kreatif. Selain itu, subsektor kuliner juga menyerap tenaga kerja paling banyak yakni 9.5 juta orang penduduk.

Melihat besarnya kontribusi kuliner dalam meningkatkan perekonomian, masyarakatbisa menjadikan kuliner sebagai usaha yang menjanjikan. Hal ini diamini Filsa Budi Ambia, pengusaha UMKM pemilik usaha makanan dalam kemasan peyek kepiting ‘Kampoeng Timoer’ dari Balikpapan.

Meskipun pandemi melanda, usaha peyek kepitingnya bisa tetap eksis dan memberikan keuntungan. Filsa mengatakan banyak subsektor kuliner yang masih sangat bisa di explore. Salah satunya adalah usaha makanan dalam kemasan.

Dengan modal kecil, seorang pengusaha kuliner makanan dalam kemasan bisa meraup omzet hingga ratusan kali lipat karena makanan dalam kemasan lebih tahan lama sehingga bisa dijual diseluruh Indonesia.

Hal ini telah dibuktikan oleh Filsa yang memulai usaha peyek kepiting “Kampoeng Timoer” hanya dengan modal Rp 100 ribu. Filsa yang juga pernah meraih penghargaan sebagai Juara 1 Wirausaha Muda Mandiri 2014 dan Marketeers of The Year 2017 ini membagikan tips nya untuk pengusaha UMKM kuliner agar produknya tetap bertahan di tengah pandemi.

“Bagi pelaku UMKM kuliner yang mengalami kendala selama pandemi, tipsnya adalah lakukan inovasi,” ujarnya.

Inovasi yang dimaksud tidak harus membutuhkan dana yang besar, bahkan bisa dilakukan hanya dengan mengamati apa yang kira-kira dibutuhkan dan diinginkan oleh masyarakat sebagai makanan yang menarik untuk dibeli.

“Pelaku UMKM kuliner saat ini harus pintar-pintar menemukan kebutuhan pasar yang sesuai dengan kondisi. Misal, jika saat ini masyarakat sangat peduli dengan kesehatan, maka pelaku UMKM bisa menciptakan makanan yang enak namun juga memiliki kandungan bahan dengan nilai gizi yang baik,” ujarnya.

Inovasi lain yang bisa dipertimbangkan adalah membuat makanan dalam kemasan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan desain yang menarik. Filsa yang juga merupakan packaging expert ini menjelaskan bahwa kemasan produk merupakan salah satu alat pemasaran produk itu sendiri.

“Seseorang akan tertarik membeli produk kuliner jika kemasannya menarik, apalagi di era digital di mana pembeli lebih banyak melihat produk melalui e-commerce atau aplikasi ojek online,” ujarnya.

Untuk membantu calon pengusaha atau yang saat ini sudah menjadi pengusaha UMKM kuliner dalam mengembangkan usaha makanan dalam kemasan, Filsa juga menyarankan mereka untuk terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, salah satunya dengan mengikuti kursus online.

“Memilih kemasan harus dengan pemahaman dan pengalaman, belajar secara online bisa menjadi alternatif bagi para calon pengusaha UMKM kuliner untuk memulainya,”jelasnya.

Masyarakat yang ingin menambah pengetahuan dan keterampilan dalam membuka usaha kuliner makanan kemasan kini dimudahkan, salah satunya melalui program Prakerja dari pemerintah, di mana peserta bisa menggunakan saldo Prakerja mereka untuk mengambil kelas dengan tajuk Menjadi Pengusaha UMKM di Bidang Kuliner yang bisa diakses melalui platform Bukalapak.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini