Waspadai Dua Hal Ini Karena Tingkatkan Risiko Kematian Dini Hingga 87%

Waspadai Dua Hal Ini Karena Tingkatkan Risiko Kematian Dini Hingga 87% Kredit Foto: Republika

Mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat berkontribusi pada kematian dini menjadi penting karena dapat membantu memperpanjang hidup Anda. Menurut Studi Global Burden of Disease (GBD) Organisasi Kesehatan Dunia yang dipimpin Christopher Murray dari University of Washington, ada empat faktor penyebab utama kematian dini. 

Faktor tersebut, pola makan yang buruk, tekanan darah tinggi, obesitas, dan penggunaan tembakau. Namun, sebuah studi terbaru menemukan dua faktor lain yang digabungkan bersama dapat secara signifikan meningkatkan risiko kematian dini seseorang yakni kurang tidur dan diabetes.

Menurut sebuah penelitian besar yang dilakukan Northwestern University di Chicago dan University of Surrey di Inggris dan diterbitkan dalam Journal of Sleep Research dan melibatkan lebih dari setengah juta orang, kombinasi dari kurang tidur dan diabetes terutama tipe 2, meningkatkan risiko kematian dini seseorang sebesar 87 persen. Mereka dengan diabetes yang tidak memiliki masalah tidur hanya 12 persen lebih rentan terhadap kematian dini. 

Baca Juga: Ini Alasan Mengapa Telur Rebus Lebih Sehat untuk Dikonsumsi

"Jika Anda tidak menderita diabetes, gangguan tidur Anda masih dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian, tetapi lebih tinggi bagi mereka yang menderita diabetes," penulis studi yang sesuai Kristen Knutson, profesor neurologi dan kedokteran pencegahan di Northwestern's Feinberg School of Medicine seperti dilansir di laman Eat This, Not That pada Ahad (12/9).

Namun, jika Anda menjawab pertanyaan: apakah Anda sulit tidur pada malam hari atau terbangun pada tengah malam dengan jawaban ya, Knutson mengatakan Anda harus mencoba mengatasi masalah tidur sejak dini.  

Pertanyaan sederhana ini cukup mudah untuk ditanyakan seorang dokter. Anda bahkan dapat bertanya pada diri sendiri. Tapi ini pertanyaan sangat luas dan ada banyak alasan mengapa Anda tidak bisa tidur nyenyak. "Jadi, penting untuk membicarakannya dengan dokter Anda sehingga mereka bisa menyelam lebih dalam," kata dia.

Baca Juga: Apa Anda Termasuk ‘Short Sleeper’?

"Apakah itu hanya kebisingan atau cahaya atau sesuatu yang lebih besar, seperti insomnia atau sleep apnea? Mereka adalah pasien yang lebih rentan yang membutuhkan dukungan, terapi, dan penyelidikan terhadap penyakit mereka." ujarnya lagi.

Penulis studi pertama, Malcolm von Schantz, profesor kronobiologi dari University of Surrey, mengatakan meskipun Anda sudah tahu ada hubungan kuat antara tidur dan kesehatan buruk, ini menggambarkan masalahnya dengan jelas.

“Pertanyaan yang diajukan ketika peserta mendaftar tidak serta merta membedakan antara insomnia dan gangguan tidur lainnya, seperti sleep apnea. Namun, dari sudut pandang praktis itu tidak masalah," ujarnya.

Dokter harus menganggap masalah tidur sama seriusnya dengan faktor risiko lainnya, dan merawat pasien mereka untuk mengurangi dan mengurangi risiko mereka secara keseluruhan.

Baca Juga: Inggris Akan Hilangkan Tes PCR untuk Traveller dan Tidak Akan Melanjutkan Rencana Paspor Vaksin

"Ternyata memiliki diabetes dan gangguan tidur dikaitkan dengan peningkatan kematian, bahkan dibandingkan dengan mereka yang menderita diabetes tanpa gangguan tidur," kata Schantz.

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini