KOL Stories x Febiansyah: Investasi di Umur 20-an, Kenapa Enggak!

KOL Stories x Febiansyah: Investasi di Umur 20-an, Kenapa Enggak! Kredit Foto: GDrive/Febiansyah

Pasar modal Indonesia kini didominasi oleh anak muda. Dari data Bursa Efek Indonesia (BEI) terpampang bahwa investor millenial dan Gen-Z kini menyerbu investasi yang berbau saham.  Derasnya keinginan milenial dan Gen-Z untuk berkecimpung di pasar modal membuat investor domestik bangkit hingga berhasil menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Pasalnya, sepanjang tahun 2021 ada sebanyak satu juta investor saham baru sehingga per 31 Agustus 2021 telah tercapai 2.697.832 jumlah single investor identification (SID) saham. Di mana, pertumbuhan terbesar ada dari investor di bawah usia 25 tahun, kemudian pertumbuhan tertinggi berikutnya adalah investor di antara 26 sampai 30 tahun, berikutnya investor dengan usia 31-40 tahun dan terakhir investor di atas 40 tahun. 

Baca Juga: KOL Stories x Finplan ID: Mengenal Lebih Dekat Instrumen Investasi Saham

Menurut data BEI per Januari 2021 masih mencatatkan tren yang sama, di mana jumlah investor baru di tahun ini 50,7 persennya datang dari segmen usia 18 sampai 25 tahun. Generasi milenial dan Z memang dinilai sangat cocok dengan ekosistem, kemudahan dan kenyamanan yang ditawarkan BEI untuk berinvestasi di pasar modal.

Apalagi ditambah dengan penggunaan teknologi smartphone dianggap betul-betul dekat dengan para milenial dan generasi Z dan seperti melatih perencanaan keuangan, berorientasi keuntungan juga saat ini dekat dengan karakter milenial yang merupakan kelompok dengan goal and achievement oriented di mana mereka betul-betul ingin mencapai suatu tujuan yang ditentukan spesifik.

Hal tersebut menjadi berita menggembirakan. Tapi di lain sisi, edukasi terkait dengan investasi khususnya di pasar modal harus lebih digencarkan lagi. Ini dilakukan agar para investor milenial dan gen-Z tidak terkena badai FOMO.

Untuk itu, Warta Ekonomi melalui program KOL Stories pun mengundang Febiansyah Afifuddin yang merupakan seorang financial content creator yang juga Founder dari FinGram Indonesia dan Finart Creative untuk berbincang seputar investasi di umur 20-an.

Bagaimana Anda melihat kebiasan investasi yang dilakukan oleh milenial dan gen Z?

Akhir-akhir ini banyak orang sudah melek dengan dunia keuangan, termasuk salah satunya yaitu tentang investasi. Ini menjadi berita yang baik untuk kita semua. Namun di sisi lain masih ada kekurangannya.

Pertama, anak muda ini belum jelas tujuannya dalam berinvestasi dan ilmunya masih cukup, namun sudah ingin terjun ke dunia investasi. Selanjutnya, mereka lebih cenderung cuan oriented alias mengejar return sebesar-besarnya, sehingga apapun instrumen investasinya disikat. Tetap berhati-hatilah dalam berinvestasi. Oleh karena itu, penting sekali belajar sebelum terjun prakteknya. Karena investasi terbaik adalah ilmu pengetahuan agar kita bisa seobjektif mungkin.

Kini generasi muda sudah lebih akrab dengan investasi, namun yang berbahaya bahwa mereka berinvestasi karena hanya ikut-ikutan. Kesalahan apa yang biasanya banyak dilakukan ketika berinvestasi di usia belia, tentunya selain ikut-ikutan tadi?

Ada banyak kesalahan yang dilakukan. Kesalahan yang biasa ditemui adalah ikut-ikutan atau FOMO (fear of missing out) karena takut ketinggalan tren. Kesalahan kedua yaitu menyepelekan segala sesuatu, misalnya investasi saham dianggap mudah, namun ternyata dia terkena cut loss.

Padahal, rumus berdagang aja simpel, yaitu kita membeli di harga murah dan menjualnya di harga yang lebih tinggi. Tetapi kalau investor atau trader yang berbuat kesalahan biasanya membeli di harga tinggi dan menjualnya di harga yang lebih murah alias cut loss. Seperti kata Warren Buffet, rule pertama jangan sampai kehilangan uang dan rule kedua jangan lupa rule yang nomor satu. 

Kesalahan berikutnya mungkin jangan cepat merasa puas atau merasa pintar ilmunya, karena menurutku dunia investasi ini luas sekali dan dinamis, alias setiap hari bisa berkembang. Jadi, miliki prinsip seperti yang dikatakan oleh Steve Jobs, yaitu stay hungry, stay foolish

Lalu, apa sebaiknya yang harus dilakukan para generasi milenial dan khususnya generasi Z sebelum mulai berinvestasi? Apa yang perlu dipahami terlebih dahulu?

Paling penting yang harus dipersiapkan adalah memiliki tujuan investasi. Ketika sudah punya tujuan, kita akan membuat perencanaan atau investing plan. Jadi kita sudah tahu step-by-step untuk mewujudkan tujuan tersebut. Misalnya kita ingin mengumpulkan dana pensiun dalam jangka waktu 30 tahun sebanyak Rp3 miliar.

Kita bisa menggunakan instrumen reksadana saham yang return rata-ratanya 15 persen, maka kita cukup menyisihkan setiap bulannya sebanyak Rp500 ribu. Jadi kita bisa fokus pada investing plan dengan menyisihkan sebanyak Rp500 ribu setiap bulannya. 

Selanjutnya, kita perlu memiliki prioritas perencanaan keuangan yang tepat. Dalam piramida perencanaan keuangan, investasi berada dalam layer kedua di level kenyamanan keuangan. Kita harus membereskan hal-hal dasar terlebih dahulu sebelum terjun ke investasi.

Pertama, cashflow harus sehat, alias penghasilan sudah ada di atas pengeluaran sehingga setiap bulannya ada surplus yang bisa kita lakukan untuk berinvestasi. Kedua, kita perlu memiliki dana darurat untuk menghadapi kondisi darurat.

Ketiga, kita perlu memiliki asuransi, karena jangan sampai kita saat terkena musibah, kita harus menjual aset investasi kita. 

Sebagai penutup adakah yang ingin disampaikan?

Saya menutup sesi ini dengan salah satu quote. Seseorang pernah berkata bahwa waktu terbaik untuk menanam pohon itu 20 tahun yang lalu, waktu terbaik kedua itu hari ini. Jadi, jangan tunda lagi, mulailah investasi hari ini. Investasi itu maknanya luas, tidak harus pakai uang atau nominal. Ada juga investasi non-materi seperti investasi waktu.

Misalnya kita punya waktu 24 jam, kita bisa sisihkan satu jam atau setengah jam untuk belajar hal baru, membaca buku, dan sebagainya. Kemudian kita bisa investasi tenaga untuk melakukan hal-hal yang baik. Baru kita bisa berinvestasi uang.

Jangan ragu untuk berinvestasi. Di zaman sekarang, sudah ada banyak instrumen investasi yang membutuhkan modal yang kecil. Contohnya adalah investasi emas yang mulai dari Rp 5 ribu saja, atau reksadana di angka Rp10 ribu.

Bangun habit investasi secara rutin setiap bulannya berinvestasi, asal kalian konsisten untuk berinvestasi. Sehingga jika penghasilannya bertambah, kalian sudah tidak lagi kebingungan ilmunya. Penting sekali di waktu muda ini untuk membangun habit berinvestasi.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini