Bagi Pasien Covid-19 Pengidap Obesitas dan Ibu Hamil, Ini Teknik Proning yang Bisa Dilakukan

Bagi Pasien Covid-19 Pengidap Obesitas dan Ibu Hamil, Ini Teknik Proning yang Bisa Dilakukan Kredit Foto: Republika

Pasien Covid-19 yang tengah menjalani isolasi mandiri (isoman) diharapkan melakukan tidur tengkurap (proning) untuk meningkatkan saturasi oksigen. Namun, bagi pasien Covid-19 yang obesitas, terutama di perut dan sedang hamil yang sulit tengkurap bisa proning posisi miring.

"Untuk yang sedang isoman, kalau sedang istirahat usahakan proning atau tengkurap sekitar dua jam per hari. Tidak hanya pasien yang mengalami penurunan saturasi yang bisa melakukannya, semua pasien Covid-19 bisa melakukannya," kata Dokter Spesialis Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Siti Chandra Widjanantie saat di podcast Tanya Jawab IDI Bertema 'Apakah Olahraga Rutin Dapat Mencegah Penularan Covid-19?', ditulis Senin (13/9).

Baca Juga: Sedang Diet? Coba Olahraga Ini, Ampuh Kurangi Lemak Tubuh

Ia menjelaskan, posisi punggung ketika tengkurap kemudian tekanan gravitasi sama di semua sisi kantung udara. Kendati demikian, ia menyadari harus ada kenyamanan pasien untuk melakukannya, bahkan tidak menutup kemungkinan perlu obat untuk melemaskan otot. 

Namun, ia mengakui ada kondisi pasien mengalami obesitas yang perutnya besar atau hamil mengalami hambatan sulit tengkurap. Sehingga, dia melanjutkan, posisi yang bisa dilakukan adalah mendekati proning yaitu modified proning. 

Ia menjelaskan, modified proning adalah posisi miring tetapi punggungnya clear atau tak ada ganjalan. "Tengkuraplah senyaman kamu mau," ujarnya.

Kemudian, dia melanjutkan, pasien isoman juga bisa menjalani latihan pernapasan untuk mengembangkan dada. Ia menyebutkan latihan tarik napas bertahap dengan gerakan tangan bisa dijalani pasien yang tengah menjalani isoman. Ia menjelaskan, paru-paru ada di kerangka dada, kalau menarik tangan maka kerangkanya juga mengulur karena ada otot yang ikut meregang. Jadi, ia mengajak pasien isoman bisa menarik tangannya ke atas, bawah, samping, sambil menarik napas. 

Kemudian melakukannya bisa dengan duduk dan berdiri. Tujuannya, dia menambahkan, latihan ini bisa untuk optimalisasi untuk menarik napas, menjaga paru-paru, dan oksigenasi lebih baik.

"Bisa dilakukan selama 30 detik, hitung saja. Kemudian ukur dengan saturasi oksigen (oximeter) dan kalau hasilnya di bawah 94 persen maka harus hati-hati karena otak tidak boleh kekurangan oksigen," katanya.

Baca Juga: Hati-hati, Sembuh dari Covid-19 Masih Bisa Picu Masalah Kesehatan Lainnya

Tak hanya untuk mengukur kadar oksigen saat menjalani latihan pernapasan, ia meminta oximeter juga digunakan pasien Covid-19 saat beraktivitas lain seperti sehabis tidur, berdiri, berjalan, mengambil minum, dan akan terlihat kalau mengalami penurunan kadar oksigen dalam darah (happy hypoxia). 

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini