Israel Mengamuk Akibat Insiden Sendok Kebebasan, Ternyata Ini Maksudnya

Israel Mengamuk Akibat Insiden Sendok Kebebasan, Ternyata Ini Maksudnya Kredit Foto: Instagram/State of Israel

Pasukan Israel menggelar penahanan massal sejak insiden pelarian enam tahanan Palestina dari penjara Israel di Gilboa pada 6 September lalu. Menurut data Departemen Urusan Negosiasi Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dan lembaga advokasi tahanan Palestina, Addameer, terdapat lebih dari 100 warga Palestina yang ditangkap sejak insiden tersebut.

“Kami telah mendokumentasikan rata-rata 14 penangkapan per hari di Tepi Barat yang diduduki sejak orang-orang itu melarikan diri. Ini tidak termasuk orang-orang Palestina yang ditangkap di Israel,” kata Milena Ansari dari Addameer yang dikutip Al Jazeera, Minggu (19/9).

Baca Juga: Arab Saudi Kepincut Sistem Pertahanan Rudal Iron Dome Israel, Mungkin Ini Alasannya

Pada 6 September, enam warga Palestina yang ditahan di penjara Gilboa melarikan diri melalui terowongan yang digali menggunakan sendok. Mereka dianggap Israel sebagai tahanan kelas kakap. Sedangkan penjara Gilboa termasuk penjara Israel berkeamanan tinggi.

Anak-anak Palestina termasuk di antara mereka yang ditangkap pasukan Israel. Mustafa Amira, bocah berusia 13 tahun asal Kota Nilin, dekat Ramallah, adalah salah satu yang diciduk aparat Israel. Ayah Mustafa, yakni Khalil Amira, mengungkapkan, anaknya dan sepupunya, Muhammad (15 tahun), dibekuk, kemudian dipukuli oleh sekitar 10 tentara Israel.

“Dia diseret ke tanah oleh tentara sebelum diserahkan ke polisi yang menginterogasinya selama berjam-jam,” kata Amira.

Mustafa dan Muhammad ditahan semalaman tanpa diberi makan atau minum. Foto menunjukkan Mustafa mengalami memar dan bengkak di bagian mata. Menurut Ziad Abu Latifa, seorang paramedis di Bulan Sabit Merah Palestina di el-Bireh, pemukulan dan pelecehan anak di bawah umur oleh pasukan keamanan Israel adalah masalah yang terus berlangsung.

“Saya telah menangani banyak kasus anak di bawah umur dipukuli, termasuk dengan popor senapan, yang menyebabkan patah tulang, pendarahan, dan luka dalam di wajah,” kata Abu Latifa.

Israel telah menangkap kembali empat tahanan Palestina yang kabur dari penjara Gilboa. Salah satu tahanan, Mohammed al-Ardah, mengatakan kepada pengacaranya bahwa ia mengalami penyiksaan setelah ditangkap kembali.

Dua tahanan lainnya menyerahkan diri pada Ahad pagi waktu setempat. Polisi Israel mencicit di Twitter, “Perburuan berakhir sukses dalam operasi bersama antara tentara (IDF), Dinas Keamanan Umum, dan Pasukan Polisi Khusus di Jenin.”

Dilansir TRT World, Jumat (17/9), Kartunis Palestina Mohammed Sabaaneh mengatakan pelarian itu telah menimbulkan komedi hitam dan mengekspos sistem keamanan Israel untuk diejek. Dia telah membuat beberapa gambar yang menampilkan perkakas yang berjudul “Terowongan Kebebasan.”

Insiden ini juga menimbulkan kekaguman di luar wilayah Palestina di mana sendok telah dibawa dalam aksi unjuk rasa yang mendukung tahanan Palestina. Di Kuwait, Seniman Maitham Abdal memahat tangan raksasa yang menggenggam sendok dengan kuat. Abdal menyebut karyanya sebagai "Sendok kebebasan."

Desainer Grafis yang berbasis di Amman pun terinspirasi dari perjuangan tahanan Palestina. Raed al-Qatnani secara simbolis menggambarkan enam siluet yang menjembatani kebebasan dan diwakili oleh sendok. Bagi al-Qatnani, itu juga membangkitkan berbagai aksi mogok makan yang dilakukan oleh para tahanan Palestina untuk memprotes penahanan mereka.

Di Tulkarem, sebuah kota di Tepi Barat yang diduduki Israel sejak 1967, pelarian tahanan membawa kembali kenangan bagi Ghassan Mahdawi. Dia dan tahanan lain melarikan diri dari penjara Israel pada tahun 1996 melalui terowongan yang digali dengan paku.

Dia telah ditangkap karena menjadi anggota kelompok bersenjata selama intifada Palestina pertama yang berlangsung hingga awal 1990-an. “Tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh narapidana dan selalu ada kecacatan dalam sistem tersebut,” kata Mahdawi yang ditangkap kembali dan kemudian dibebaskan setelah total menjalani hukuman 19 tahun.

Dalam pandangannya, pelarian terbaru mungkin telah menggunakan alat selain sendok yang diperoleh di dalam penjara untuk melakukan apa yang diimpikan oleh setiap tahanan tetapi hanya sedikit yang dapat dicapai.

“Melarikan diri dari penjara Israel adalah sesuatu yang dipikirkan setiap narapidana. Melakukannya dengan sendok adalah sesuatu yang akan tercatat dalam sejarah,” ujar dia. 

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini