Sstt… Begini Cara Ubah Sampah Jadi Duit, Tertarik?

Sstt… Begini Cara Ubah Sampah Jadi Duit, Tertarik? Kredit Foto:

Masalah pengelolaan dan daur ulang sampah masih menjadi salah satu urusan krusial di Indonesia. Di tengah tantangan untuk dapat mengelola timbunan sampah yang menggunung, sebuah fakta mencengangkan tersaji bahwa selama ini Indonesia justru masih sangat membutuhkan berbagai pasokan sampah daur ulang, yang karena suplai dari dalam negeri sangat terbatas, sehingga opsi impor sampah menjadi tak terelakkan lagi. “Selama ini Indonesia masih harus mengimpor bahan baku plastik dan kertas, yang itu masih berbentuk bahan dasar sampah. Jadi (tantangan) ke depan adalah bagaimana untuk (kebutuhan) sampah sebagai bahan baku daur ulang ini kita bisa mandiri. Tidak perlu impor lagi,” ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan (KLHK), Rosa Vivien Ratnawati, di Jakarta, Sabtu (18/9).

Cara untuk membangun kemandirian tersebut, menurut Rosa, perlu dilakukan oleh seluruh masyarakat Indonesia dengan mulai memilah sendiri sampahnya, bahkan sejak dari rumah masing-masing. Setelahnya, sampah yang sudah terpilah berdasar klasifikasinya itu diserahkan ke bank sampah, yang akan mengelolanya lebih lanjut. “Kita pilah sendiri (sampahnya) sejak dari rumah, maka dengan begitu pengelolaan di bank sampah jadi bisa lebih maksimal lagi. Dengan begitu, suplai sampah untuk kebutuhan daur ulang tadi bisa lebih terpenuhi, sehingga impor berkurang. Artinya, manfaat keenomian yang bisa dishare ke ekosistem sampah domestik ini juga pasti akan lebih besar lagi,” tutur Rosa.

Karenanya, Rosa kemudian mengapresiasi setiap upaya dari berbagai pihak untuk mulai turut mengkampanyekan kebiasaan pemilahan sampah secara mandiri di masyarakat. Salah satunya adalah program bersih-bersih serentak di dunia (World Cleanup Day/WCD) yang digagas oleh Lions Club bekerjasama dengan Le Minerale. Pada tahun ini, Program WCD sengaja mengambil tema 'Gerakan Nasional Pilah Sampah Dari Rumah', sesuai dengan kondisi pandemi COVID19 di mana masyarakat jadi lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. "Ini menjadi kabar bagus juga, bahwa kesadaran pemilahan sampah ini sudah mulai menjadi concern banyak pihak. Ada kolaborasi lintas sektoral yang sangat bagus, dari produsen air minum dalam kemasan Le Minerale, dari Lions CLub, lalu Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) dan masih banyak lagi. Ini bagus, untuk ke depan agar masyarakat semakin terbiasa untuk memilah sampahnya sejak dari rumah masing-masing," papar Rosa.

Sebelumnya, dalam kesempatan terpisah, Sustainable Waste Indonesia (SWI) juga pernah hasil surveynya yang memperkirakan bahwa perputaran nilai ekonomi dari pengolahan plastik bekas kemasan rupanya demikian besar. Untuk jenis plastik bekas berbahan polyethylene terephthalate (PET) saja, misalnya, perputaran nilai ekonomisnya diyakini tak kurang dari Rp1 miliar per hari. “Jadi masih tak banyak yang menyadari bahwa pada dasarnta potensi ekonomi sirkular dari pengelolaan sampah ini sangat besar, kalau kita mau (memanfaatkan). Hanya saja masyarakat. Meski di luar aspek ekonomi, pemerintah juga menargetkan tercapainya program Indonesia bersih pada tahun 2025 mendatang,” tegas Rosa.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini