Alasan Serangan Mematikan ISIS ke Taliban Bisa Perluas Konflik di Afghanistan

Alasan Serangan Mematikan ISIS ke Taliban Bisa Perluas Konflik di Afghanistan Kredit Foto: EPA

Kelompok ekstremis ISIS telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom yang menargetkan pejuang Taliban di Afghanistan timur. Hal itu meningkatkan konflik yang lebih luas antara Taliban yang kembali berkuasa di Afghanistan, dan ISIS sebagai pesaing mereka.

Serangkaian ledakan menghantam kendaraan Taliban di Jalalabad, Afghanistan pada akhir pekan lalu. Serangan ini menewaskan delapan orang, di antaranya pejuang Taliban. 

Baca Juga: Taliban Bantah Larang Siswi SMP Bersekolah, Klaim sedang Siapkan Transportasi Khusus

Pada Senin (20/9), tiga ledakan lagi terdengar di kota itu, dan sejauh ini belum ada konfirmasi apakah pejuang Taliban menjadi korban dalam ledakan tersebut.

Taliban berada di bawah tekanan untuk menahan militan ISIS. Taliban sebelumnya telah berjanji kepada masyarakat internasional bahwa mereka akan mencegah serangan teror dari tanah Afghanistan.  

“Kami pikir sejak Taliban datang, perdamaian akan datang,” kata Feda Mohammad, saudara laki-laki dari seorang pengemudi becak berusia 18 tahun yang tewas dalam salah satu ledakan pada Ahad (19/9) bersama dengan sepupunya yang berusia 10 tahun.

“Tapi tidak ada kedamaian, tidak ada keamanan. Anda tidak dapat mendengar apa pun kecuali berita ledakan bom yang membunuh ini atau itu,” kata Mohammad, menambahkan.

Serangan ISIS terjadi saat Taliban menghadapi tugas berat untuk memerintah Afghanistan yang mengalami keterpurukan. Perekonomian Afghanistan semakin memburuk, dan sistem kesehatan di ambang kehancuran.

Sementara ribuan elit terpelajar negara itu telah melarikan diri. Kelompok bantuan internasional memperkirakan Afghanistan akan menghadapi kekeringan, kelaparan, dan kemiskinan yang semakin parah.

“Kesengsaraan kami telah mencapai puncaknya,” kata Abdullah, seorang penjaga toko di Jalalabad, sehari setelah ISIS mengaku bertanggung jawab atas pemboman tersebut.

“Orang-orang tidak memiliki pekerjaan, orang-orang menjual karpet mereka untuk membeli tepung, sementara masih ada ledakan dan (ISIS) mengklaim serangan itu,” kata Abdullah menambahkan.

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini