ADB Proyeksikan Ekonomi Indonesia 2021 Akan Tetap Tumbuh Positif Meskipun Terdampak Varian Delta

ADB Proyeksikan Ekonomi Indonesia 2021 Akan Tetap Tumbuh Positif Meskipun Terdampak Varian Delta Kredit Foto: Reuters/Cheryl Ravelo

Asian Development Bank (ADB) memperkirakan perekonomian Indonesia tahun 2021 akan tetap tumbuh positif meskipun sempat jatuh akibat lonjakan kasus Covid-19 varian Delta pada Juli lalu. Dalam Asian Development Outlook (ADO) 2021 Update, ADB memproyeksikan ekonomi tumbuh 3,5% pada akhir tahun 2021 dan 4,8% pada 2022 mendatang.

Berdasarkan laporan ADO 2021 Update, ekspor dan belanja pemerintah diperkirakan akan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini. Hal ini didukung oleh kebijakan fiskal dan moneter yang dipandang mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca Juga: PLN Jalankan 4 Strategi untuk Dorong Konsumsi Listrik Seiring Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

"Pemulihan terus berlanjut pada paruh pertama 2021 berkat berbagai kebijakan [fiskal dan moneter] dan didukung oleh ekspor yang kuat," ujar Jiro Tominaga, Direktur ADB untuk Indonesia, dalam acara rilis ADO 2021 Update yang dilakukan secara daring, Rabu (22/9/2021).

ADB memperkirakan pengeluaran rumah tangga akan pulih tipis sebelum naik 5,0% pada tahun depan. Sementara investasi dinilai akan menguat pada 2022 seiring dengan makin pulihnya iklim dunia usaha.

"Perekonomian mulai naik pada kuartal III/2020 dan berlanjut hingga Juni 2021. Kita berharap perekonomian di akhir 2021 akan lebih besar dari akhir 2019," kata Henry Ma, Ekonom Senior ADB, dalam kesempatan yang sama.

Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tumbuh 3,1% pada semester pertama 2021 seiring dengan pelonggaran pembatasan sosial serta aspek permintaan yang meningkat. Akan tetapi, indikator kegiatan ekonomi sempat melambat pada Juli dan Agustus 2021 akibat pengetatan PPKM oleh pemerintah sebagai respons terhadap lonjakan kasus Covid-19.

Meskipun begitu, ADB menilai inflasi masih tetap terkendali dan diperkirakan mencapai 1,7% pada tahun ini. Angka ini lebih rendah dari proyeksi sebelumnya yang dirilis ADB pada April lalu, yakni sebesar 2,4%. Namun, penurunan ini sejalan dengan melambatnya pergerakan ekonomi akibat pengetatan PPKM.

Kendati demikian, ADB menyatakan inflasi akan merangkak naik mendekati tingkat pra-pandemi sebesar 3,0% pada tahun depan. Angka tersebut masih dalam rentang target Bank Indonesia yaitu 2-3%.

Kemudian, defisit transaksi berjalan diproyeksikan akan sebesar 0,5% dari PDB 2021 dan 0,9% pada 2022.

Namun, ADB menekankan masih ada sejumlah risiko dalam perkembangan ekonomi Indonesia, terutama terkait kondisi pandemi Covid-19. Pasalnya, Covid-19 merupakan salah satu faktor terbesar yang menghambat aktivitas perekonomian, baik di Indonesia maupun luar negeri.

"Kita harus mempertimbangkan kondisi Covid-19, tak hanya di Indonesia tapi di dunia. Kita harus hati-hati," tutur Henry Ma.

Investasi terbaik ialah investasi leher ke atas. Yuk, tingkatkan kemampuan dan keterampilan diri Anda dengan mengikuti kelas-kelas di WE Academy. Daftar di sini.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini