Ribut-ribut Pakta AUKUS, Malaysia Cari di Mana Posisi China soal Nuklir

Ribut-ribut Pakta AUKUS, Malaysia Cari di Mana Posisi China soal Nuklir Kredit Foto: Reuters/CNS Photo

Malaysia pada Rabu (22/9/2021) mengatakan pihaknya berencana untuk mencari posisi China pada kemitraan pertahanan baru antara Amerika Serikat, Inggris dan Australia. Hal ini diambil beberapa hari setelah membunyikan alarm bahwa pakta itu dapat memicu perlombaan senjata nuklir di wilayah tersebut.

Aliansi, yang dikenal sebagai AUKUS, melansir Reuters, Rabu (22/9/2021), akan melihat Australia mendapatkan teknologi untuk menyebarkan kapal selam bertenaga nuklir sebagai bagian dari perjanjian yang dimaksudkan untuk menanggapi pertumbuhan kekuatan China, terutama di Laut China Selatan yang penting secara strategis.

Baca Juga: Apa Itu Aliansi Aukus? Pakta yang Bikin Prancis Murka ke Australia

Indonesia dan Malaysia memperingatkan bahwa hal itu akan mengarah pada perlombaan senjata di kawasan di tengah persaingan negara adidaya yang berkembang di Asia Tenggara, sementara Filipina telah mendukung pakta tersebut sebagai sarana untuk menjaga keseimbangan kekuatan kawasan.

Menteri Pertahanan Malaysia Hishammuddin Hussein pada hari Rabu mengusulkan perjalanan kerja segera ke China untuk membahas AUKUS.

“Kita perlu mendapatkan pandangan dari pimpinan China, khususnya pertahanan China, tentang AUKUS yang diumumkan oleh ketiga negara tersebut dan apa tindakan mereka setelah pengumuman tersebut,” kata Hishammuddin di parlemen.

China mengatakan rencana itu berisiko sangat merusak perdamaian dan stabilitas regional.

Hishammuddin mengatakan dia telah mendesak timpalannya dari Australia Peter Dutton untuk mendekati Brunei, ketua Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), serta Kamboja, Myanmar, Laos, dan Vietnam - tetangga China - untuk mengatasi kekhawatiran tentang keamanan kawasan.

“Kekuatan kita bukan ketika kita sendiri, kekuatan kita adalah ketika 10 negara anggota ASEAN ini bersatu untuk melihat posisi dan keamanan kawasan dipertahankan,” katanya.

Hishammuddin menambahkan bahwa fokus saat ini adalah untuk menyeimbangkan dua kekuatan besar dalam konteks AUKUS, ditambah hubungan Malaysia dengan Five Power Defense Arrangements, pakta konsultasi tahun 1971 yang dicapai pada puncak perang dingin antara Inggris, Australia, Selandia Baru, Malaysia, dan Singapura.

Dia mengatakan itu harus "digunakan sebagai pengungkit untuk menyeimbangkan kekuatan utama."

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini