Penari Bali Tahan Terhadap Paparan Covid-19, Kok Bisa?

Penari Bali Tahan Terhadap Paparan Covid-19, Kok Bisa? Kredit Foto: Sufri Yuliardi

Ketahanan tubuh para penari terhadap paparan Covid-19 ternyata sangat bagus. Hal ini terungkap dalam riset bertajuk “Resico Penari Ideathon Bali Kembali” yang dilakukan dosen Universitas Widyagama Malang, Ir Nurida Finahari, terhadap para penari di Bali.      

Baca Juga: Akibat Pandemi, dalam 3 Bulan Terakhir Hampir 200.000 Anak Dirujuk ke Layanan Kesehatan Mental

Dia menjelaskan, ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi dari hasil penelitian tersebut. Pertama, dari aspek kesehatan tampak bahwa penari umumnya adalah masyarakat yang sehat, tidak pernah mengalami rawat inap (78.3 persen), tidak pernah sakit lebih dari seminggu tanpa rawat inap (80 persen), dan mayoritas mengalami sakit dalam frekuensi sekali dalam satu semester (45.4 persen).  

Di masa pandemi Covid-19, lanjutnya, mayoritas penari juga tidak mengalami gejala Covid-19 (91 persen), tidak pernah dinyatakan positif (97.4 persen), meskipun sekitar separuh diantaranya pernah melakukan tes Rapid/swab PCR (51.3 persen). 

Dari 2,6 persen penari yang pernah mengalami positif Covid-19, 86.7 persen melakukan perawatan di rumah dan umumnya berhasil sembuh dalam jangka waktu maksimum dua pekan (73.3 persen). 

"Hal ini mengindikasikan ketahanan tubuh terhadap paparan Covid-19 dari para penari sangat bagus, sebagaimana diduga dalam hipotesis. Temuan ini akan diajukan sebagai rekomendasi kebijakan pembatasan aktivitas berkesenian dalam kerangka PPKM," ujar Nurida dalam siaran pers yang diterima pada Kamis (23/9). 

Baca Juga: Ngeri! Gigi dan Mulut yang Tidak Sehat Memicu Risiko Penyakit Ini

Dia menjelaskan, Resico merupakan aktivitas penelitian yang bertujuan memetakan potensi resiliensi penari terhadap paparan Covid-19, khususnya di dua wilayah Bali, yaitu Denpasar dan Buleleng (Singaraja). 

Sedangkan Ideathon Bali Kembali adalah program penelitian yang ditawarkan BNPB bersama Kemenristek/BRIN dan Pemprov Bali untuk seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Sesuai dengan namanya, program ini mempersyaratkan keberadaan mitra penelitian yang berlokasi di Bali.  

Program ini hanya diperuntukkan untuk 50 tim dari seluruh Indonesia, salah satunya adalah Tim RESICO yang diketuai Nurida Finahari. Tim ini juga beranggotakan peneliti dari dua institusi di luar Universitas Widyagama Malang, yaitu Universitas PGRI Banyuwangi dan ISI Denpasar. Tim penelitian ini juga bermitra dengan Yayasan Bumi Bajra Sandi Gianyar Bali.  

Sesuai dengan tujuan Ideathon Bali Kembali, menurut Nurida, penelitian ini betujuan untuk menjaring gagasan implementatif dan inovatif berbasis kearifan lokal yang dapat berkontribusi dan bermanfaat bagi sektor kesehatan, pariwisata, ekonomi dan sosial budaya secara langsung kepada masyarakat Provinsi Bali. 

Meskipun terkendala pelaksanaan PPKM, penelitian Resico dapat dilaksanakan secara tepat waktu. Rentang pelaksanaan penelitian yang hanya tiga bulan saja itu sedianya dilakukan antara Juni-Agustus 2021, kemudian ditunda menjadi Agustus- Oktober 2021. 

Baca Juga: Penting! Ini Cara Mengatasi Nyeri Kaki pada Penderita Diabetes

"Saat ini, Tim Resico telah menyelesaikan seluruh proses pengambilan data, dan dalam tahap 30 persen terakhir penyelesaian perkembangan penelitian," kata Nurida.      

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini