Era Engagement Banking, Perbankan Harus Fokus Pada Pihak Rentan Melalui Aplikasi Kesehatan Keuangan

Era Engagement Banking, Perbankan Harus Fokus Pada Pihak Rentan Melalui Aplikasi Kesehatan Keuangan Kredit Foto: Sufri Yuliardi

Kementerian Komunikasi dan Informatika memblokir hampir 450 penyedia teknologi keuangan ilegal di paruh pertama tahun 2021. Hal ini telah membuat literasi keuangan yang rendah menjadi sorotan nasional, serta menunjukkan betapa rentannya nasabah yang tidak siap dan minim literasi.

Sebagai solusi untuk masalah literasi finansial yang rendah ini dan kesenjangan yang semakin besar dalam inklusi keuangan, sektor perbankan mengandalkan aplikasi kesehatan keuangan sebagai cara untuk menyediakan akses ke produk dan layanan keuangan yang benar-benar bermanfaat dan terjangkau.

Baca Juga: Studi Terbaru Backbase: 80% Perbankan di Indonesia Perluas Literasi Keuangan

Backbase Regional APAC Vice President, Iman Ghodosi lewat pers rilis Jumat (24/09) menekankan bahwa literasi keuangan yang rendah telah menjadi penghalang terbesar untuk mencapai inklusi keuangan.

“Aplikasi ini membantu nasabah dengan memberi mereka alat, saran, dan pedoman untuk kehidupan finansial yang lebih baik,” kata Ghodosi.

Ia menambahkan, “Bank ingin melindungi nasabah mereka yang rentan, menjaga mereka lebih lama, dan membantu mencegah beberapa aktivitas ilegal yang terjadi di industri keuangan.”

Visi ini didukung oleh temuan terbaru yang menunjukkan bahwa bank telah berfokus pada usaha untuk mempertahankan dan melindungi nasabah mereka melalui kemajuan dalam kecerdasan buatan dan analisa data. Studi terbaru yang dilakukan oleh Backbase melalui Forrester Consulting mengungkapkan hasil survei dari para pengambil keputusan bisnis perbankan ritel Indonesia yang diwawancarai.

Sebanyak 68% mengatakan mencegah eksploitasi nasabah yang rentan dan lebih tua adalah aspek penting dari aplikasi kesehatan keuangan, 66% percaya bahwa mengidentifikasi risiko kerentanan dan kesulitan keuangan pada nasabah mereka adalah penting dan 76% ingin mendorong nasabah untuk membangun kebiasaan finansial yang lebih baik untuk masa depan yang sukses.

Keberhasilan di era engagement banking bukan berarti tanpa tantangan bagi sektor perbankan. Studi baru menemukan bahwa 66% pengambil keputusan pada perbankan ritel merasa bahwa teknologi yang ketinggalan zaman adalah penghalang terbesar untuk melaksanakan transformasi.

Sekat-sekat organisasi dan prioritas yang bersaing juga menjadi penghalang ketika mencoba menerapkan platform perbankan digital yang relevan terhadap masa depan.

“Bank perlu mengatasi tantangan ini secepat mungkin, karena siapa pun yang berhasil terlebih dahulu akan memiliki keunggulan kompetitif yang jelas dibandingkan yang lain,” kata Ghodosi.

Dia menambahkan, “Aspek lain yang terkadang terlupakan dalam proses ini adalah banyaknya peluang pengumpulan data yang tersedia.”

“Nasabah menunggu layanan ini. Pada akhirnya, ini adalah win-win solution bagi nasabah dan institusi, dan kami tidak sabar untuk melihat apa yang terjadi selanjutnya.”

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini