Covid-19 Berdampak pada Penurunan Berat Badan dan Malnutrisi

Covid-19 Berdampak pada Penurunan Berat Badan dan Malnutrisi Kredit Foto: Republika

Covid-19 kini sudah diketahui dapat memengaruhi berbagai organ dan fungsinya di dalam tubuh. Studi terbaru menemukan bahwa infeksi pada kasus Covid-19 juga dapat memicu penurunan berat badan dan malanutrisi pada pasien.

Sebelumnya, analisis post-hoc (uji lanjut) pada Oktober 2020 pada kelompok studi prospektif menemukan bahwa Covid-19 dapat berkaitan dengan beragam manifestasi klinis yang mungkin berhubungan dengan penurunan berat badan dan malanutrisi. Manifestasi klinisnya meliputi kehilangan indra penciuman dan perasa hingga gangguan pernapasan berat yang membutuhkan perawatan intensif.

Baca Juga: Duh… Varian Covid-19 Semakin Mudah Menyebar, Lebih Airborne?

Menurut studi National Center for Biotechnology Information (NCBI), penurunan berat badan dan risiko malnutrisi tampak sangat umum ditemukan pada pasien Covid-19 yang dievaluasi setelah remisi klinis. Sebanyak hampir dari 30 persen penyintas Covid-19 tersebut mengalami penurunan berat badan dasar lebih dari lima persen. Selain itu, lebih dari setengah pasien juga berisiko terhadap malanutrisi.

Konsultan ilmu penyakit dalam dari Bathia Hospital di India, Dr Abhishek Subhash, mengatakan bahwa penurunan berat badan pada banyak pasien Covid-19 kerap dipengaruhi oleh kehilangan indra pengecapan dan penciuman. Kondisi tersebut secara alami dapat menurunkan nafsu makan.

Akan tetapi, penurunan berat badan bisa tampak lebih drastis pada pasien yang mengalami infeksi mukormikosis. Infeksi sekunder mukormikosis ini membuat pasien harus menjalani operasi dan mengonsumsi obat antijamur yang memicu mual.

"Lagi-lagi, (mual) mempengaruhi nafsu makan mereka, dan di banyak kasus menyebabkan penurunan berat badan," jelas Dr Subhash, seperti dilansir Indian Express.

Saat membandingkan pasien Covid-19 yang mengalami penurunan berat badan dan tidak, studi di Milan, Italia mendapati bahwa pasien yang mengalami penurunan berat badan juga menderita inflamasi sistemik yang lebih besar. Mereka juga mempunyai fungsi ginjal yang lebih buruk dengan lanju filtrasi glomerulus di bawah 60 serta durasi sakit Covid-19 yang lebih lama.

Baca Juga: Akibat Pandemi, dalam 3 Bulan Terakhir Hampir 200.000 Anak Dirujuk ke Layanan Kesehatan Mental

"Inflamasi sistemik akut sangat memengaruhi beberapa lintasan metabolisme dan hiptalamus yang berkontribusi pada anoreksia dan penurunan asupan makan, serta peningkatan pelepasan energi istirahat dan peningkatan katabolisme otot," jelas studi tersebut.

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini