KLHK–ITTO Gelar Webinar Pengendalian Karhutla Tingkat Regional Asia Tenggara

KLHK–ITTO Gelar Webinar Pengendalian Karhutla Tingkat Regional Asia Tenggara Kredit Foto: APRIL Group

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan–International Tropical Timber Organization (ITTO) bersama Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Regional Fire Management Resources Center–South East Asia (RFMRC-SEA) menggelar webinar seri ke-3 dengan topik pengendalian kebakaran hutan dan lahan tingkat regional Asia Tenggara secara daring (23/9/2021).

Seri webinar yang mengambil tema the Fire Danger Rating System (FDRS) with anthropogenic and new technologies and innovations for future fires itu mengundang Ahmad Ainuddin Nuruddin dari Institute of Tropical Forestry and Forest Product (INTROP), Universiti Putra Malaysia, dan Hartanto Sanjaya dari Badan Riset dan Inovasi sebagai narasumber.

Baca Juga: KLHK: Walau Sudah Tidak Ada Inpres No. 8/2018, Perizinan Baru Tetap Dihentikan

Nuruddin menyampaikan pemaparan bertajuk Preparing for Future Forest Fires: New Technologies and Innovations. "Ke depan, kebakaran hutan akan sangat dipengaruhi oleh perubahan iklim dan aktivitas manusia. Diperlukan pemodelan iklim dan kebakaran yang dikombinasikan dengan penutupan lahan dan faktor antropogenik sehingga mampu memberikan pemahaman yang lebih baik dalam menggambarkan tren kejadian kebakaran hutan," jelas Nuruddin, dikutip dari laman sipongi.menlhk.go.id.

Nuruddin juga menyampaikan perlu adanya teknologi dan inovasi dalam penanganan kebakaran serta kolaborasi peneliti multidisiplin dalam memberikan alternatif solusi yang terintegrasi. Tidak hanya itu, juga diperlukan kolaborasi antar-stakeholder serta pembiayaan dalam pengembangan alternatif solusi.

Sementara itu, Hartanto Sanjaya menyampaikan topik Advancing the FDRS with anthropogenic as an Inclusive Factor. Hartanto menceritakan sejarah pengembangan FDRS di Indonesia serta riset pengembangan Ina-FDRS yang memasukan unsur antropogenik dalam algoritma sistemnya. Tahap lanjutan pengembangan berupa optimalisasi data antropogenik pada area yang lebih luas dan lebih kompleks, serta utilisasi satelit data dan model meteorologis yang lebih detil dan akurat.

"Karhutla disebabkan aktivitas manusia dengan alasan ekonomi dan sosial, faktor demografi merupakan driver utama terjadinya kebakaran, serta faktor biofisik merupakan faktor pendukung terjadinya kebakaran," terang Hartanto.

Sementara itu, Richard Woods dari Charles Sturt University, Australia menyampaikan materi dengan judul The Australian Wildfire Season 2019/20 and an overview of Wildfire Investigation procedures, yang mendeskripsikan kejadian kebakaran yang terjadi di Australia pada periode 2019/2020. Pada kejadian tersebut, seluas 19 juta areal terbakar, lebih dari 3.000 rumah hilang, serta 34 orang meninggal dunia.

"Pelaksanaan pelatihan investigasi terhadap kejadian kebakaran hutan merupakan suatu kebutuhan. Investigasi mampu menekan terjadinya kebakaran melalui upaya-upaya pencegahan, menekan biaya penanggulangan kebakaran, serta penyelamatan lingkungan dan kehidupan," pungkas Richard.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini