Beres Disuntik Booster, Biden: Yang Ogah Divaksin, Tidak Sayang Nyawa

Beres Disuntik Booster, Biden: Yang Ogah Divaksin, Tidak Sayang Nyawa Kredit Foto: Reuters/Leah Millis

Presiden AS Joe Biden menerima suntikan booster di Gedung Putih pada Senin (27/9), beberapa hari setelah penggunaan dosis booster disetujui pejabat berwenang.

"Kami paham, untuk mengalahkan pandemi Covid-19 dan menyelamatkan nyawa, rakyat harus segera divaksin," kata Biden, dalam pidato sebelum vaksin.

Baca Juga: Soal Penanganan Covid-19, Biden Berpesan ke Jokowi: Ini Krisis All-Hands-On-Deck

"Karena itu, jangan lewatkan vaksinasi. Sebab vaksin dapat menyelamatkan nyawa Anda dan orang di sekitar Anda," imbuhnya.

Biden menerima suntikan pertama vaksin Covid-19, menjelang pelantikannya pada Januari 2021.

Presiden berusia 78 tahun itu dinyatakan memenuhi syarat untuk mendapatkan dosis booster, sejak ia menerima vaksin Pfizer/BioNTech keduanya lebih dari 6 bulan lalu.

Biden sedianya divaksin bersamaan dengan sang istri, Jill Biden. Namun, pada waktu yang bersamaan, Jill yang berprofesi sebagai profesor di Northern Virginia Community College di luar Washington sedang mengajar.

Sekretaris persnya Michael LaRosa mengatakan kepada CNN pada Senin (27/9) malam, Jill telah menerima booster-nya di Gedung Putih.

Dari pengalamannya divaksin, Biden mengaku tak mengalami efek samping. Baik saat vaksin pertama atau vaksin kedua. 

Menurutnya, warga Amerika yang divaksinasi lengkap sudah sangat terlindungi dari penyakit parah. Karena itu, Biden mendesak orang yang belum divaksin, untuk melakukannya sesegera mungkin.

"Sebagian besar orang Amerika melakukan hal yang benar. Lebih dari 77 persen orang dewasa, kini sudah divaksin dosis pertama. Namun, ada 23 persen yang belum mendapatkan suntikan. Minoritas yang berbeda ini menyebabkan banyak sekali kerusakan untuk seluruh negara. Ini adalah pandemi orang yang tidak divaksinasi," kata Biden.

Rabu (28/9), Biden akan pergi ke Chicago untuk berbicara tentang pentingnya lembaga bisnis melembagakan persyaratan vaksin.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS  (CDC) telah merekomendasikan vaksin booster untuk kelompok masyarakat yang lebih luas.

Yakni kelompok usia 18 hingga 64 tahun yang berisiko lebih tinggi terkena Covid-19, lansia, penghuni fasilitas perawatan jangka panjang, dan beberapa orang dengan kondisi kesehatan yang mendasarinya.

Mereka harus sudah menerima seri vaksin Pfizer/BioNTech Covid-19 setidaknya 6 bulan lalu.

Pada Jumat (25/9)  Koordinator Respons Covid-19 Gedung Putih Jeff Zients mengatakan, AS telah mengamankan pasokan yang cukup bagi setiap warga Amerika .untuk menerima suntikan booster.

"Warga Amerika yang memenuhi syarat, dapat menerima suntikan booster di sekitar 80 ribu lokasi di seluruh negeri, termasuk lebih dari 40 ribu apotek lokal," kata Zients.

Secara signifikan, AS juga meningkatkan jumlah vaksin Covid-19 yang akan dikirim ke negara-negara asing mulai tahun 2022, dalam upaya untuk mengakhiri pandemi di seluruh dunia.

Pekan lalu, AS membeli 500 juta vaksin Pfizer Covid-19 tambahan untuk disumbangkan ke negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah di seluruh dunia.

Total vaksin yang telah disumbangkan AS ke negara lain kini mencapai lebih dari 1,1 miliar.

Lihat Sumber Artikel di Rakyat Merdeka Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Rakyat Merdeka. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Rakyat Merdeka.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini