Para Pakar Lempar Pertanyaan Logis buat 3 Negara yang Jadi Aktor Utama AUKUS, BIsa Jawab?

Para Pakar Lempar Pertanyaan Logis buat 3 Negara yang Jadi Aktor Utama AUKUS, BIsa Jawab? Kredit Foto: Reuters/US Navy

Indonesia, ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan pemimpin de facto Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) telah menyuarakan keprihatinannya atas pakta AUKUS.

Abdul Kadir Jailani, direktur jenderal untuk urusan Asia, Pasifik, dan Afrika di Kementerian Luar Negeri Indonesia, mengatakan dalam sebuah kolom opini yang diterbitkan oleh The Jakarta Post pada Selasa (28/9/2021) bahwa “tidak ada norma hukum internasional yang tampaknya dilanggar untuk saat ini” oleh tindakan Australia baru-baru ini.

Baca Juga: Dubes Amerika untuk Indonesia: AUKUS Tidak akan Memicu Perlombaan Senjata Asia

Namun, dia mengatakan bahwa Indonesia memiliki pertanyaan yang masuk akal tentang perubahan lanskap geopolitik, yang tidak ingin dilihat oleh Indonesia.

“Akuisisi kapal selam nuklir semacam itu menimbulkan kekhawatiran bahwa perlombaan senjata yang ditandai dengan peningkatan kemampuan proyeksi kekuatan di kawasan itu mungkin akan segera terjadi. Postur strategis baru ini jelas dimaksudkan untuk meningkatkan pencegahan di wilayah yang diperebutkan di Indo-Pasifik,” katanya.

Malaysia dan Indonesia Peringatkan Pakta AUKUS Dapat Memicu Perlombaan Senjata Nuklir

“Upaya semacam ini untuk membangun kekuatan militer yang kuat kemungkinan akan memicu dan menarik reaksi balasan lebih lanjut,” tambahnya.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison telah menelepon rekan-rekannya dari Malaysia dan Indonesia, Ismail Sabri Yaakob dan Joko Widodo, untuk meyakinkan mereka bahwa Australia berkomitmen untuk menjaga perdamaian di Indo-Pasifik.

Dewi Fortuna Anwar, pakar kebijakan luar negeri dari Pusat Kajian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, mengatakan negara-negara Asia Tenggara tidak ingin dipaksa untuk memihak dalam persaingan yang semakin ketat antara AS dan China.

“[Negara-negara] Asia Tenggara tidak ingin menjadi teater untuk perang proksi,” kata Dewi pada hari Rabu dalam webinar yang diadakan oleh Observatorium Indo-Pasifik Prancis-Jerman.

“Hal terakhir yang kami inginkan adalah militerisasi di Indo-Pasifik. Ketika Prancis dan Inggris mengirim kapal perang [ke Indo-Pasifik], kekhawatirannya adalah bahwa ini hanya meningkatkan kemungkinan insiden nyata di laut.”

Seperti tetangganya di Asia Tenggara, Indonesia telah mempertahankan tindakan penyeimbangan strategis dengan memperkuat hubungan dengan China dan AS dan tetap tidak berpihak, sebagaimana didikte oleh kebijakan luar negerinya yang “bebas dan aktif”.

“Bagi Anda yang akrab dengan kebijakan luar negeri Indonesia, Indonesia selalu berpegang pada analogi gadis cantik: main mata dan berkencan dengan banyak pria, tetapi jangan menikah dengan siapa pun. Di situlah leverage dan itulah yang juga dilakukan Asean,” kata Dewi.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini