Raja Bitcoin yang Belum Teridentifikasi Ada Dalam Daftar "Pandora Papers"

Raja Bitcoin yang Belum Teridentifikasi Ada Dalam Daftar "Pandora Papers" Kredit Foto: Unsplash/Aleksi Raisa

Persatuan Jurnalis Investigasi Internasional (ICIJ) telah mengidentifikasi penjahat kripto utama di antara mereka yang terpapar dan telah menyalurkan dana ke pajak bayangan di “Pandora Papers.”

Menurut dokumen ICIJ 3 Oktober yang merangkum temuan organisasi dari investigasi Pandora Papers, aset lepas pantai milik seseorang  yang disebut Raja Bitcoin yang dihukum karena pencucian uang sehubungan dengan cyberheist terbesar dalam sejarah dan akan diidentifikasi untuk ditangani oleh salah satu perusahaan.

Baca Juga: Lewat RUU Terbaru, Brazil Tingkatkan Hukuman Kejahatan Terkait Kripto

Pandora Papers terdiri dari kumpulan data 2,94 terabyte yang mencakup 11,9 juta catatan dari 14 penyedia layanan lepas yang berbeda. Dokumen tersebut mengklaim untuk mengekspos aset tersembunyi lebih dari 330 politisi dan pejabat tinggi publik dari 90 yurisdiksi yang berbeda, termasuk 35 pemimpin negara dan lebih dari 130 miliarder.

ICIJ juga mencatat bahwa aset bankir, donor politik besar, pedagang senjata, penjahat internasional, bintang pop, kepala mata-mata, dan raksasa olahraga  dapat diidentifikasi di antara dokumen-dokumen tersebut.

Sementara "Raja Bitcoin" yang diidentifikasi dalam Pandora Papers tidak disebutkan secara langsung, hukuman mereka sehubungan dengan cyberheist paling signifikan dalam sejarah mempersempit ruang lingkup kemungkinan siapa individu tersebut.

Wartawan menggambarkan operasi sebuah kelompok peretas Carbanak tidak tertandingi dalam skala dan nilai, dengan geng siber diperkirakan telah mencuri lebih dari 1,24 miliar dolar dari lembaga keuangan dan bisnis yang berlokasi di lebih dari 100 negara antara tahun 2013 dan 2017.

Sementara dua dari enam individu telah dijatuhi hukuman atas peran mereka di Carbanak, keadaan seputar penangkapan 2018 terhadap orang yang diduga sebagai pemimpin Carbanak, Denis Tokarenko (juga dikenal sebagai Denis Katana), menunjukkan bahwa dia mungkin pelaku yang diidentifikasi dalam Pandora Papers. .

Menurut artikel Bloomberg Businessweek yang menceritakan penangkapan Tokarenko pada Maret 2018, Polisi Nasional Spanyol menemukan 15.000 Bitcoin (BTC), senilai 162 juta dolar pada saat itu, dalam kepemilikan peretas.

Carlos Yuste, kepala inspektur pusat kejahatan dunia maya Kepolisian Nasional Spanyol, mengatakan kepada publik  bahwa Tokarenko juga telah menggunakan operasi penambangan Bitcoin yang dibeli di China untuk mencuci dana curiannya ke BTC.

Banyak analis juga menggambarkan cyberheist Bank Bangladesh 2016, di mana peretas mencuri hampir 1 miliar dolar dari rekening Federal Reserve Bank of New York yang dimiliki oleh bank sentral Bangladesh, sebagai pencurian digital terbesar dalam sejarah.

Namun, mantan karyawan Rizal Commercial Banking Corporation, Maia Santos Deguito adalah satu-satunya individu yang telah dijatuhi hukuman atas pencurian siber hingga saat ini, melansir dari  Cointelegraph, dalam suatu penyelidikannya belum mengungkapkan sumber apa pun yang mengaitkan Deguito dengan aset kripto.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini