Punya Peluang Perekonomian Positif di 2022, Asia Tenggara Harus Fokus Pada Varian Delta

Punya Peluang Perekonomian Positif di 2022, Asia Tenggara Harus Fokus Pada Varian Delta Kredit Foto: Antara/Antara

Penyebaran varian Delta COVID-19 yang sangat menular telah membayangi dan memperlambat pemulihan ekonomi kawasan Asia Tenggara (SEA) tahun ini, terutama untuk negara-negara dengan tingkat imunitas terhadap Covid-19 yang rendah.

Ekonomi beberapa negara, termasuk Indonesia diperkirakan akan mengalami kontraksi pada kuartal ketiga tahun ini. Namun demikian, menurut laporan Global Economic Forecast Report dari ICAEW dan Oxford Economics prospek Kawasan Asia Tenggara pada tahun 2022 akan jauh lebih positif.

Baca Juga: Laporan ICAEW: Asia Tenggara Memiliki Imunitas Covid 19 yang Rendah

Pada Forum Ekonomi Internasional yang diselenggarakan oleh ICAEW pada 14 September 2021, para pemimpin dan pakar industri membahas prospek ekonomi Tiongkok, Asia Tenggara, dan Timur Tengah, dengan fokus pada dampak varian Delta dan bagaimana negara dapat menciptakan pertumbuhan melalui ekonomi yang lebih hijau.

Dalam pembahasan tersebut juga disebutkan era pasca Covid-19 akan didominasi oleh perubahan iklim dan pemulihan dari pandemi memberikan peluang bagi pebisnis untuk membangun kembali bisnis mereka dengan cara yang lebih kuat dan berkelanjutan untuk masa depan yang lebih baik.

Berikut beberapa temuan lain dalam laporan Global Economic Forecast Report meliputi:

  • Perpindahan dalam pasokan global akan mengganggu sektor manufaktur di tangkat regional

Di tingkat global, berbagai tingkat pembatasan mobilitas dan keberhasilan pelonggaran pembatasan di berbagai negara telah berkontribusi pada pola return-to-work yang tidak merata dan berdampak negatif pada rantai pasokan global.

Perusahaan di seluruh dunia telah melaporkan bahwa mereka memiliki jumlah unit persediaan produk yang jauh lebih sedikit daripada yang biasanya mereka harapkan. Kendala pasokan ini akan tetap menjadi masalah dalam jangka pendek, dan produksi yang lambat akan menyebabkan peningkatan biaya dan tekanan inflasi yang akan memiliki ripple-effect pada pemulihan ekonomi di Asia Tenggara.

  • Inovasi teknologi dan investasi publik sangat penting bagi ekonomi hijau

Biaya ekonomi dari lambatnya tindakan yang dilakukan terkait perubahan iklim sangatlah signifikan. Untuk ekonomi Asia Tenggara yang lebih bergantung pada industri pertanian dan peternakan, kemajuan yang lebih lambat dalam memperkenalkan dan adopsi energi terbarukan dapat menjadi tantangan nyata bagi pertumbuhan PDB mereka dalam jangka panjang.

Di sisi lain, ada banyak peluang untuk menjadi penggerak awal teknologi hijau. Tiongkok dan kawasan Asia Tenggara dapat menjadi penggerak utama untuk mulai memetakan pemulihan ekonomi hijau dan sebagai pemimpin dalam Penelitian dan Pengembangan dan inovasi teknologi.

Ditambah dengan tingkat utang yang rendah, hal ini dapat memberikan peluang untuk membangun kembali industri dan bisnis yang lebih hijau jika negara-negara mau berinvestasi dalam transisi energi bersih dan memanfaatkan kemitraan publik dan swasta untuk menciptakan perubahan.

Mereka dapat melakukan ini dengan menetapkan tujuan kebijakan yang jelas dan memberikan panduan kepada bisnis untuk mengintegrasikan strategi berkelanjutan dalam organisasi mereka dan membandingkan kemajuan mereka dengan sistem pelaporan yang sama.

 

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini