ATW Group Beberkan 5 Tantangan Implementasi EBT Tenaga Surya di Indonesia

ATW Group Beberkan 5 Tantangan Implementasi EBT Tenaga Surya di Indonesia Kredit Foto: SUNterra

Komisaris Utama ATW Group, Eddie Widiono, mengungkapkan, meski saat ini kondisi global tengah mengalami transisi energi, di Indonesia memunculkan beragam tantangan besar. Hal tersebut mengakibatkan pemanfaatan panel surya yang menghasilkan energi tenaga surya belum berjalan maksimal.

"Pertama adalah ketidakstabilan pasokan panel surya dari pihak manufaktur, di mana paling banyak berasal dari China. Saat ini, harga solar panel naik sangat signifikan karena beberapa faktor, yaitu permintaan global yang sangat tinggi," ujarnya dalam Peresmian Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 1,7 MWp Sampoerna Kayoe bersama ATW Group di Jombang, dikutip dalam siaran daring di Jakarta, Rabu (6/10/2021).

Baca Juga: RUPTL Lebih Hijau, PLN Siap Tingkatkan Kontribusi EBT

Eddie menuturkan, tingginya permintaan global yang tinggi sebanyak 50 GW per tahunnya diperuntukkan pasar China. Selain itu, kekurangan bahan baku dasar seperti kaca, silicon, yang disebabkan China Energy Crisis mengalami penurunan produktivitas proses manufaktur dalam kurun waktu 7 hari tidak beroperasi.

Dalam situasi pandemi Covid-19, banyak kota maupun pelabuhan yang tutup dan mengakibatkan harga logistik mengalami kenaikan. Sejumlah faktor tersebut membuat harga akhir yang diterima konsumen mengalami peningkatan secara drastis dengan nilai yang fluktuatif. "Sehingga mengakibatkan jangka waktu pengembalian modal menjadi lebih panjang," ungkapnya.

Kedua, mencakup kesiapan infrastruktur dari jaringan listrik di Indonesia. Karena karakter PLTS yang bersifat tidak menentu (intermittent) dan bergantung saat adanya matahari, infrastruktur berupa energy storage sangat diperlukan untuk kestabilan jaringan listrik. Bila PLTS ini makin luas digunakan, itu akan menjadi masalah yang perlu ditangani.

Eddie menambahkan, tantangan ketiga terletak pada keterbatasan sumber daya manusia dan menjadi salah satu tantangan yang besar. Walaupun instalasi sistem panel surya bukanlah rocket science, metode yang digunakan dan detail yang perlu diperhatikan sangatlah banyak. Sebab, terdapat ratusan komponen yang dijahit menjadi satu.

"Kempat, dengan nilai investasi yang besar, konsumen dalam segmentasi rumahan masih banyak yang keberatan untuk mengeluarkan investasi yang relatif terbilang cukup besar di muka," ujarnya.

Kelima, sektor bisnis dan industri, banyak perusahaan yang lebih memilih untuk melakukan investasi di bisnis utama mereka. Salah satunya dengan melakukan ekspansi pabrik atau membeli mesin produksi baru, dengan jangka waktu pengembaliannya jauh lebih cepat dibandingkan dengan sistem panel surya, yang saat ini sekitar 6-8 tahun dengan lifetime 25 tahun.

"Maka dari itu, kami menyediakan solusi pembiayaan sehingga konsumen tidak perlu melakukan investasi di awal. Adapun tantangannya adalah jangka waktu kontrak yang terbilang cukup panjang dalam kisaran 15-25 tahun sehingga konsumen perlu berpikir jangka panjang dengan sangat teliti untuk pengambilan keputusan," pungkasnya.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini