Harap Tenang, Meski Efektivitas Menurun Setelah 6 Bulan, Vaksin Pfizer Masih...

Harap Tenang, Meski Efektivitas Menurun Setelah 6 Bulan, Vaksin Pfizer Masih... Kredit Foto: AP Photo/Stew Milne

Belum lama ini rilis mengenai efektivitas vaksin Pfizer dikeluarkan. Studi atau penelitian tentang efektivitas itu dilakukan melalui tinjauan tentang efek setelah pemberian dosis kedua.

Disebutkan bahwa Efektivitas vaksin Pfizer Inc (PFE.N)/BioNTech SE dalam mencegah infeksi virus corona turun menjadi 47% dari 88% enam bulan setelah dosis kedua.

Baca Juga: Studi: Efektivitas Vaksin Covid-19 Pfizer Menurun Setelah 6 Bulan

Meski demikian dalam tinjauan lain yakni pencegahan infeksi parah yang mengakibatkan rawat inap, vaksin pfizer masih tergolong efektif.

Melansir laman ABC News (5/10/21), Menurut studi terbaru, Vaksin Pfizer COVID-19 tetap 90% efektif dalam mengurangi risiko rawat inap seseorang dari virus enam bulan setelah diberikan. Hal ini berlaku bahkan saat menghadapi varian delta serta jika orang tersebut belum menerima suntikan booster.

Namun, dalam hal pencegahan infeksi, efektivitas vaksin berkurang dengan cepat seiring berjalannya waktu, menurut penelitian tersebut.

Baca Juga: Penting! Ini Alasan Mengapa Penderita Diabetes Perlu Melakukan Vaksinasi Covid-19

Dalam studi yang didanai oleh Pfizer, para peneliti menilai data dari Kaiser Permanente dan menghitung persentase pasien yang divaksinasi lengkap yang tertular COVID-19 setiap bulan setelah vaksinasi. Data dari sekitar 3,4 juta orang dianalisis antara Desember 2020 dan Agustus 2021.

Hasil penelitian ini sejalan dengan data yang diterbitkan sebelumnya dari Israel dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS yang melihat efektivitas vaksin dari waktu ke waktu, tetapi penelitian yang didanai Pfizer adalah yang pertama mempertimbangkan bagaimana varian delta dapat berdampak pada vaksin Pfizer efektivitas dari waktu ke waktu.

Baca Juga: Harap Diperhatikan, Mengonsumsi Banyak Telur Dapat Memicu Risiko Diabetes

“Efektivitas vaksin terhadap varian delta dan non-delta tetap tinggi selama penelitian, menunjukkan bahwa vaksin bekerja dengan baik bahkan ketika ada varian,” kata Dr. Simone Wildes, spesialis penyakit menular dan kontributor ABC News. 

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini