Penggunaan Antibiotik Terbukti Selamatkan Nyawa Tetapi Tidak Bisa Sembarangan Digunakan

Penggunaan Antibiotik Terbukti Selamatkan Nyawa Tetapi Tidak Bisa Sembarangan Digunakan Kredit Foto: Pexels/Anna Shvets

Guru Besar dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof Dr dr Hindra Irawan Satari, SpA(K), MTropPaed, mengatakan, antibiotik termasuk salah satu penemuan penting dalam dunia medis yang bisa menyelamatkan nyawa manusia. Namun, pemakaiannya wajib sesuai indikasi dan aturan.

"Antibiotik penemuan penting dalam dunia kesehatan karena bila digunakan atas indikasi bisa menyelamatkan nyawa," kata Ketua Perhimpunan Pengendalian Infeksi Indonesia (PERDALIN) itu dalam virtual media briefing terkait resistensi antimikroba, Kamis (7/10).

Baca Juga: Ngeri! Kesehatan Bisa Terancam Jika Megonsumsi Vitamin D Berlebihan, Hal Ini karena…

Di Amerika Serikat, misalnya, antibiotik berperan melindungi nyawa sekitar 200.000 orang setiap hari dan meningkatkan kemungkinan hidup 5-10 tahun pada bayi baru lahir yang terkena infeksi bakteri. Antibiotik saat ini dimanfaatkan untuk mengobati penyakit akibat infeksi bakteri seperti demam tifoid atau tipes yang disebabkan bakteri Salmonella typhii. Kemudian, diferi akibat infeksi Corynebacterium diphteriae yang menyerang selaput lendir pada hidung tenggorokan, tetanus akibat infeksi bakteri Clostridium tetani hingga infeksi saluran kemih.

"Tifoid obatnya tidak ada lagi selain antibiotik, difteri tidak ada obatnya selain antibiotik, juga tetanus, pertusis, radang selaput otak akibat bakteri, infeksi saluran kencing," tutur Hindra.

Baca Juga: Ternyata Konsumsi Suplemen Vitamin Berkaitan dengan Meningkatnya Risiko Kematian, Kok Bisa?

Dia mengingatkan orang-orang, termasuk tenaga kesehatan, untuk bijaksana memanfaatkan antibiotik, salah satunya memastikan peruntukkan yang tepat demi menghindari resistensi antibiotik. Resistensi antibiotik lebih sulit ditangani sehingga memunculkan masalah lain, yakni kesakitan bertambah, risiko kematian pasien meningkat, rawat inap yang lebih panjang di rumah sakit dan biaya perawatan bisa menjadi berlipat ganda. 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2020 menyatakan, masyarakat dunia saat ini sangat perlu mengubah cara mereka meresepkan dan menggunakan antibiotik, termasuk mengurangi penyebaran infeksi melalui vaksinasi, mencuci tangan, mempraktikkan kebersihan makanan yang baik. WHO mencatat, resistensi antibiotik meningkat ke tingkat yang sangat tinggi di semua bagian dunia. 

Baca Juga: Ngeri! Ini Efek Konsumsi Makanan Cepat Saji, Bisa Memicu Diabetes?

Mekanisme resistensi baru muncul dan menyebar secara global dan mengancam kemampuan untuk mengobati penyakit menular umum. Akibatnya, daftar infeksi terus bertambah seperti pneumonia, TBC, dan penyakit akibat makanan menjadi lebih sulit, dan terkadang tidak mungkin untuk diobati karena antibiotik menjadi kurang efektif atau tidak responsif terhadap pengobatan yang saat ini tersedia.

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini