Suara Tegas Amien Rais Beberkan Beda Pak SBY dan Pak Jokowi, Isinya Wow!

Suara Tegas Amien Rais Beberkan Beda Pak SBY dan Pak Jokowi, Isinya Wow! Kredit Foto: Instagram Amien Rais

Tokoh Reformasi Amien Rais blak-blakan menyampaikan pendapatnya terkait perkembangan demokrasi di Indonesia, setelah 23 tahun gerakan reformasi 1998 terjadi.

Hal tersebut disampaikan Amien Rais dalam video wawancara yang diunggah di kanal Youtube Karni Ilyas Club, Jumat (8/10/2021).

Baca Juga: Bukan Amien Rais Dalang yang Melengserkan Gus Dur, Ternyata Ada Peran Tokoh Besar Ini...

Saat ini, Amien Rais melihat demokrasi di Indonesia bergerak ke arah yang disebutnya lebih berbahaya lagi ketimbang era sebelumnya.

"Jadi ada democratic backsliding. Ini bukan fenomena di Indonesia saja tapi fenomena di negara lain juga. Jadi demokrasi yang meluncur ke bawah, ke arah kubangan otoritarianisme," tegas Amien Rais dikutip GenPI.co, Minggu (10/10).

Amien Rais melihat ada upaya sistematik untuk membonsai bahkan mengubur demokrasi.

Tak hanya membeberkan opini, Amien Rais bahkan mampu menyodorkan salah satu fakta yang saat ini terjadi, yakni besarnya kekuasaan eksekutif yang mampu mendikte legislatif.

"Bayangkan eksekutif bisa berbuat apa saja dan diamini oleh DPR, MPR, dan DPD," tegas pendiri Partai Ummat ini.

"Jadi, saya mengatakan bedanya Pak SBY dengan Jokowi sekarang, kalau SBY dulu slogannya Bersama Kita Bisa. Kalau sekarang ini, apa saja kita bisa," sambungnya.

Amien Rais mengakui sangat sulit untuk menahan laju demokrasi menuju ke arah sesuatu yang sangat berbahaya tersebut.

Sebab, koalisi politik sangat kuat dan didukung dana tidak terbatas.

"Tidak ada lagi yang bisa menahan kereta besi politik yang sangat kuat ini dan dananya unlimited," pungkas Amien Rais.

Lihat Sumber Artikel di GenPI Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan GenPI. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab GenPI.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini