Habis Senggol SBY, Hasto Kena Sentil Kader Partai Demokrat

Habis Senggol SBY, Hasto Kena Sentil Kader Partai Demokrat Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso

Politisi Partai Demokrat Syahrial Nasution menyindir Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto yang telah menyinggung nama Susilo Bambang Yudhoyono dalam pernyataannya.

Menurut Syahrial, ini cara Hasto berlindung dari kejaran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) soal kasus Harun Masiku.

Yakni, dengan menjilat pemerintahan saat ini dan membandingkannya dengan pemerintahan era SBY.

Baca Juga: Nama SBY Disinggung PDIP, Anak Buahnya Meradang: Hasto Ini Bagai Kodok dalam Tempurung!

"Cara Hasto sekjen PDIP berlindung dari kejaran KPK dalam kasus Harun Masiku adalah dengan menjilat Jokowi dan menjelekkan 10 tahun pemerintahan Pak SBY. Selebihnya, mencret!" tulisnya dari Twitter @syahrial_nst yang dikutip Populis.id pada Jumat (22/10/2021).

Sebagaimana diketahui, PDI Perjuangan (PDIP) menanggapi apresiasi dunia dalam penanganan pandemi COVID-19 di Tanah Air sebagai hal yang positif dan membanggakan.

Hasto menilai eberhasilan ini karena tak terlepas dari model kepemimpinan Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Kata dia, Jokowi bekerja dengan melihat persoalan langsung dan turun ke bawah kemudian mendekatkan diri ke rakyat. Ia bilang PDIP bangga dengan kinerja Jokowi.

"Melihat akar persoalan pokok dari COVID-19 dan kemudian mencari solusi menyeluruh dimulai dari refocusing anggaran, kebijakan yang menyeimbangkan antara pembatasan sosial dan pertumbuhan ekonomi serta terdepan dalam pengadaan vaksin," kata Hasto, dalam webinar di kantor DPP PDIP, Jakarta, Kamis (21/10/2021).

Selain itu, Jokowi memiliki karakteristik yang berbeda dengan pemimpin lain. Perintahnya, baik di lapangan maupun rapat terbatas selalu cepat dieksekusi anak buahnya.

Lantas, ia membandingkan era Jokowi dengan pemerintahan 10 tahun sebelumnya. Di mana sebelumnya diisi Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan masa jabatan 2004-2014.

“Berbeda dengan pemerintahan 10 tahun sebelumnya, terlalu banyak rapat tidak mengambil keputusan," katanya.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini