Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Sebut Jangan Dalam Pelajari Agama, KSAD Dudung Langsung Diperingatkan Petinggi MUI!

Sebut Jangan Dalam Pelajari Agama, KSAD Dudung Langsung Diperingatkan Petinggi MUI! Kredit Foto: Instagram/Dudung Abdurachman
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pernyataan yang menimbulkan kontroversi kembali dikeluarkan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Dudung Abdurachman.

Belum lama soal statemen Jenderal Dudung yang menyebut Tuhan bukan orang Arab, kini ia mengatakan agar jangan terlalu dalam mempelajari agama, karena hal itu bisa menyebabkan terjadinya penyimpangan.

Baca Juga: Usai Dipimpin Andika Perkasa, TNI Langsung Jadi Institusi yang...

Pernyataan tersebut juga memancing reaksi berbagai pihak, salah satunya dari Ketua MUI Pusat, Muhammad Cholil Nafis.

Dalam cuitan Twitter, Cholil Nafis mempertanyakan pada Jenderal Dudung maksud dari perkataannya soal jangan terlalu dalam pelajari agama.

Cholil Nafis juga mengatakan, jika memang Dudung ingin berganti profesi menjadi penceramah agama, maka dia menawarkan standarisasi dai MUI.

“Apa maksudnya jgn terlalu dalam mempelajari agama? Saya menawarkan standardisasi da’i MUI klo mau berganti profesi sbg penceramah agama he hehe,” tulis Kyai Cholil Nafis, Senin (6/12/2021).

Ia pun meminta Jenderal Dudung untuk fokus saja pada tugas utamanya yakni menjaga pertahanan negara, serta menumpas musuh Indonesia.

“Baiknya fokus pada tugas pokoknya aja, yaitu pertahanan negara dan menumpas perusuh dan pembangkang NKRI,” terang Cholil Nafis.

Baca Juga: KSAD Dudung Abdurachman Kena Sindir Petinggi 212, Disebut Aneh dan...

Tanggapan Cholil Nafis terkait Dudung mendapat respons dari sejumlah warganet Twitter di kolom balasannya.

“Beberapa waktu terakhir saya ikuti beberapa berita mengenai bapak, khusunya komentar2 bapak terkait agama, saya pikir kurang elok kalo bapak terlalu jauh bicara tentang agama, lebih baik bapak fokus saja pada tupoksi bapak sebagai kasad,” kata salah satu warganet.

“Manakala seorang Dudung tak memperdalam soal agama, maka sangat keliru sebab ia merupakan teladan bagi prajuritnya. Dg demikian jangan salahkan dudung, justru yg mengkritisi itu yg harus banyak belajar terhadap Dudung tentang tafsir kalimat dalam bahasa,” tulis yang lainnya.

“Di konfirmasi dulu Pak Kyai takut salah persepsi kalo lihat di tweet @tni_ad itu ada kelanjutan nya,” komentar warganet lain.

Diketahui sebelumnya, perkataan Jenderal Dudung soal jangan terlalu dalam mempelajari agama disampaikan saat KSAD itu mengisi ceramah di sela kunjungan kerja ke Kodam XVII/Cenderawasih, Jayapura, Selasa 23 November lalu.

Dalam ceramahnya Jenderal Dudung didampingi Habib Husein bin Hasyim bin Toha Baagil.

Dalam video yang diunggah akun Dispenad, Dudung menyinggung tentang implementasi rasa syukur yang sudah diciptakan oleh Allah SWT kepada hambanya untuk menunaikan salat. Dudung pun menyebut tentang ilmana sebagai tingkatan keimanan umat Islam.

“Iman taklid, ada iman ilmu, ada iman iyaan, ada iman haq (haqul yaqiin), dan iman hakikat. Karena itu, banyak sebagian dari orang Islam sering terpengaruh katanya hadis ini, katanya hadis itu, kata Nabi Muhammad SAW. Oleh karenanya jangan terlalu dalam, jangan terlalu dalam mempelajari agama,” ujar Dudung.

Dudung mengatakan, dampak dari terlalu dalam mempelajari agama adalah bisa-bisa terjadi penyimpangan.

“Akhirnya terjadi penyimpangan-penyimpangan,” tegasnya.

Baca Juga: Pernyataan KSAD Dudung Soal Agama Belajar Agama, Ketua MUI Beri Sindiran dengan Tawari Profesi Ini

Sementara itu, Kadispen TNI AD, Brigjen Tatang Subarna menjelaskan konteks pernyataan Jenderal Dudung itu adalah terlalu dalam mempelajari agama, tanpa adanya guru atau ustad pembimbing yang ahli dalam ilmunya.

“Itulah maksud yang disampaikan Kasad pada video yang ditayangkan di akun Youtube Dispenad pada saat memberikan kultum usai sholat subuh bersama prajurit Kodam XVIII/Cenderawasih”, ujar Tatang.

“Dengan belajar agama sendiri, apalagi secara mendalam tanpa guru, cenderung akan mudah terpengaruh. Pada akhirnya justru akan dapat menimbulkan penyimpangan-penyimpangan,” jelas Kadispenad.

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Suara.com. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Suara.com.

Editor: Adrial Akbar

Bagikan Artikel:

Video Pilihan