Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Digarap Polisi Besok Pagi, Begini Reaksi Edy Mulyadi Dapat Surat Panggilan

Digarap Polisi Besok Pagi, Begini Reaksi Edy Mulyadi Dapat Surat Panggilan Kredit Foto: Instagram
Warta Ekonomi, Jakarta -

Bareskrim Polri tengah mengusut kasus dugaan ujaran kebencian berbau SARA yang menyeret nama Edy Mulyadi sebagai terlapor. Dia pun akan segera diminta keterangan sebagai saksi terlapor.

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan mengatakan bahwa tim penyidik telah menyerahkan surat panggilan secara langsung kepada Edy Mulyadi.

Baca Juga: Sikap Tegas PDIP, Tak Mau Kasus Edy Mulyadi Berakhir Damai

"Setelah penyidik menyerahkan surat panggilan langsung kepada yang bersangkutan, dia (Edi Mulyadi) menyatakan siap hadir," kata Ramadhan kepada wartawan, Kamis (27/1).

Sesuai dengan surat panggilan Bareskrim, Edy Mulyadi akan dimintai keterangan sebagai saksi terlapor pada Jumat (27/1) besok pukul 10.00 pagi. "Jadi, sampai saat ini proses penanganan perkara masih berjalan. Tunggu perkembangan selanjutnya akan kami sampaikan," tegas Ramadhan.

Ramadhan sebelumnya mengatakan mereka sudah memeriksa sejumlah saksi hingga ahli. "Total sampai hari ini telah dilakukan pemeriksaan sebanyak 30 orang saksi dan delapan saksi ahli," sebutnya.

Jenderal bintang satu ini mengatakan, saksi yang diperiksa berasal dari sejumlah wilayah, seperti dari Kalimantan Timur, Jawa Tengah, dan DKI Jakarta. Sebab, Edy Mulyadi dilaporkan di banyak tempat sebelum akhirnya disatukan di Bareskrim Polri.

"Pemeriksaan saksi di Kalimantan Timur sebanyak 10 orang, kemudian di Jawa Tengah dua orang, terakhir di Jakarta tiga orang," beber Ramadhan.

Sebelumnya, beredar potongan video Edy Mulyadi yang sedang mempermasalahkan pemindahan ibu kota negara (IKN) dari Jakarta ke Kalimantan Timur. Dalam video itu, dia menyinggung Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.

Edy menyebut Ketua Umum Partai Gerindra itu sebagai macan yang jadi mengeong. Kemudian dia juga menyebut bahwa wilayah Kaltim sebagai 'tempat jin buang anak' sehingga menjadi aneh apabila ibu kota negara dipindahkan ke wilayah tersebut.

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan JPNN.com. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab JPNN.com.

Editor: Puri Mei Setyaningrum

Tag Terkait:

Bagikan Artikel:

Video Pilihan