Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Beber Informasi Mahal, Bekas Wamenlu: Putin Targetkan 2 Maret, Rusia Menang Penuh

Beber Informasi Mahal, Bekas Wamenlu: Putin Targetkan 2 Maret, Rusia Menang Penuh Kredit Foto: Sputnik/Mikhail Tereshchenko
Warta Ekonomi, Moskow -

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Andrei Fedorov, mengatakan, Presiden Vladimir Putin menargetkan penyelesaian operasi militer ke Ukraina dengan kemenangan penuh pada 2 Maret mendatang. Fedorov pun berharap Rusia dan Ukraina melakukan pembicaraan untuk menurunkan eskalasi.

Ukraina dan Rusia telah sepakat untuk mengadakan pembicaraan di sebuah tempat dekat perbatasan Belarusia. Pembicaraan itu  diadakan tanpa prasyarat.

Baca Juga: PBB Sebut Peningkatan Operasi Militer Rusia di Ukraina Mengarah ke Pelanggaran HAM

Fedorov mengatakan, perlawanan di Ukraina dan sanksi yang diberlakukan oleh Barat lebih kuat dari yang diprediksi Rusia sebelum kekerasan dimulai. Menurutnya, sanksi tersebut hanya akan menambah masalah.

“Mereka selalu berpikir bahwa kami adalah negara besar, kami adalah negara yang hebat.  Kami menyediakan Anda dengan gas dan minyak.  Anda tidak akan pernah menggunakan sanksi-sanksi seperti itu. Ini adalah kenyataannya, dan telah menyebabkan banyak masalah di sini sekarang" kata Fedorov.

Sejumlah negara Barat telah memberikan sanksi yang sangat keras sebagai tanggapan atas invasi Rusia terhadap Ukraina melalui darat, laut, dan udara. Sanksi tersebut akan menjatuhkan perekonomian Rusia, termasuk Presiden Putin dan jajaran pejabatnya.

Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, mengatakan, Uni Eropa akan menutup wilayah udaranya untuk pesawat Rusia, termasuk jet pribadi oligarki Rusia. Uni Eropa juga melarang jaringan televisi milik negara Rusia, Russia Today dan kantor berita Sputnik.  Von der Leyen mengatakan, larangan ini bertujuan agar Rusia tidak dapat menyebarkan kebohongan dan menabur perpecahan di Eropa.

"Untuk pertama kalinya, Uni Eropa akan membiayai pembelian dan pengiriman senjata dan peralatan lainnya ke negara yang sedang diserang," kata von der Leyen.

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Editor: Muhammad Syahrianto

Bagikan Artikel:

Video Pilihan