Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Government
Video
Indeks
About Us
Social Media

Intelijen Amerika Tercengang, Putin Ternyata Dibohongi Oleh Kremlin atas Invasi Ukraina

Intelijen Amerika Tercengang, Putin Ternyata Dibohongi Oleh Kremlin atas Invasi Ukraina Kredit Foto: Instagram/Russian Army
Warta Ekonomi, Washington -

Para pejabat intelijen Amerika Serikat (AS) pada Rabu (30/3/2022) mengatakan, para penasihat Kremlin telah memberikan informasi yang keliru kepada Presiden Rusia Vladimir Putin perihal buruknya performa pasukan militernya di Ukraina.

Menurut Gedung Putih, para penasihat Kremlin takut untuk mengatakan situasi yang sebenarnya kepada Putin.

Baca Juga: Belasan Komandan Senior Militer Rusia Tewas Bikin Putin Marah Besar, Ukraina Patut Siaga

Pejabat intelijen AS mengatakan bahwa Putin menyadari situasi informasi yang datang kepadanya sehingga terjadi ketegangan terus-menerus antara Putin dan pejabat senior militer Rusia.

"AS yakin Putin sedang disesatkan tidak hanya tentang kinerja militernya, tetapi juga bagaimana ekonomi Rusia dilumpuhkan oleh sanksi karena, penasihat senior (Kremlin) terlalu takut untuk mengatakan yang sebenarnya," ujar Direktur komunikasi Gedung Putih, Kate Bedingfield.

Temuan informasi intelijen AS ini sebelumnya telah dirahasiakan. Bahkan Presiden Joe Biden enggan mengomentari temuan intelijen itu.

Seorang pejabat AS yang berbicara dengan syarat anonim mengatakan, temuan intelijen tersebut telah dibocorkan dengan harapan dapat mendorong Putin untuk mempertimbangkan kembali pilihannya di Ukraina. 

Tetapi temuan intelijen tersebut dapat berisiko semakin mengisolasi Putin. Menurut para pejabat AS, salah satu alasan Putin melancarkan operasi militer di Ukraina karena ada keinginan untuk memenangkan kembali prestise Rusia yang hilang karena jatuhnya Uni Soviet.

“Apa yang dilakukannya adalah menggarisbawahi bahwa ini telah menjadi kesalahan strategis bagi Rusia. Tapi saya tidak akan menjelaskan bagaimana Vladimir Putin mungkin memikirkan hal ini," kata Bedingfield.

Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, mengatakan, ada dinamika di dalam Kremlin di mana para penasihat tidak mau berbicara dengan Putin secara terus terang.

“Salah satu hak otokrasi Achilles adalah bahwa Anda tidak memiliki orang-orang dalam sistem yang berbicara kebenaran kepada kekuasaan, atau memiliki kemampuan untuk berbicara kebenaran kepada kekuasaan, dan saya pikir itulah yang kita lihat di Rusia,” kata Blinken.

Komunitas intelijen telah menyimpulkan, Putin tidak menyadari bahwa militernya telah menggunakan dan kehilangan wajib militer di Ukraina.  Mereka juga tidak sepenuhnya menyadari sejauh mana ekonomi Rusia hancur oleh sanksi ekonomi yang dijatuhkan AS dan sekutunya.

"Temuan tersebut menunjukkan kerusakan yang jelas dalam aliran informasi yang akurat ke Putin, dan menunjukkan bahwa penasihat senior Putin takut untuk mengatakan yang sebenarnya," kata pejabat AS yang berbicara dengan syarat anonim.

Temuan baru intelijen muncul setelah Gedung Putih menyatakan skeptis tentang pernyataan Rusia bahwa, mereka akan menghentikan operasi di dekat Kiev. Penghentian operasi ini merupakan upaya untuk meningkatkan kepercayaan dalam pembicaraan yang sedang berlangsung antara pejabat Ukraina dan Rusia di Turki.

Pasukan Rusia menggempur daerah di sekitar ibu kota Ukraina dan kota lain pada Rabu (30/3/2022) malam. Pentagon mengatakan, selama 24 jam terakhir telah melihat beberapa tentara Rusia di daerah sekitar Kiev bergerak ke utara atau ke Belarus.

Putin telah lama terlihat di luar Rusia sebagai orang yang picik, dan dikelilingi oleh pejabat yang tidak selalu mengatakan yang sebenarnya kepadanya. Para pejabat AS secara terbuka meyakini bahwa, arus informasi yang terbatas kemungkinan diperburuk oleh isolasi yang meningkat dari Putin selama pandemi Covid-19.

Hal ini mungkin telah memberikan pandangan yang tidak realistis kepada presiden Rusia tentang seberapa cepat dia dapat menguasai Ukraina. 

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Muhammad Syahrianto

Bagikan Artikel: